Minggu, 31 Mei 2026
LEBARAN HAJI 1447 H

Pelatihan Program SISKA yang Dijalani Aspek-PIR Labuhanbatu Didukung Pemprov Sumut

Hendrik Hutabarat - Jumat, 10 April 2026 11:22 WIB
Pelatihan Program SISKA yang Dijalani Aspek-PIR Labuhanbatu Didukung Pemprov Sumut
Hendrik
Pemprov Sumut dipastikan mendukung Aspek-PIR Labuhanbatu bila serius mengembangkan program SISKA.
Rantauprapat, asatupro.com - Pelatihan program sistem integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA) yang dijalani oleh para petani kelapa sawit anggota DPD II Asosiasi Petani Kelapa Sawit Pola Inti Rakyat (Aspek-PIR) Indonesia Cabang Kabupaten Labuhanbatu mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut).

Dukungan itu disampaikan oleh Marthin Sibagariang, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Sumut di Rantauprapat Convention Center, Kamis (9/4/2026) sore.

Dukungan itu dia ungkapkan di hadapan ratusan petani sawit swadaya dan plasma dari seluruh Labuhanbatu dalam acara "Praktik Pengolahan Daun Sawit Menjadi Pakan Ternak untuk Mendukung Program SISKA dan Praktik Pembuatan Biochar dan Tankos Skala UMKM dalam Mendukung Ketahanan Pengan".

Kegiatan itu diadakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerjasama dengan DPP Aspek-PIR Indonesia, dan pihak PTPN IV PalmCo Regional 1 Labuhanbatu.

Baca Juga:

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk Kepala Bidang Perkebunan (Kabidbun) Dinas Pertanian dan Perkebunan Labuhanbatu, Agussalim Ritonga.

Kemudian hadir juga Syarifuddin Sirait selaku Sekretaris Umum (Sekum) DPP Aspek-PIR Indonesia, Budi Cibro selaku Ketua DPD II Aspek-PIR Labuhanbatu, para pengurus DPD I Aspek-PIR Sumut, serta para petani sawit dari berbagai koperasi unit desa (KUD) di Labuhanbatu.



Baca Juga:

Martin Sibagariang menjelaskan, Pemprov Sumut terus memperkuat integrasi sektor perkebunan dan peternakan sebagai strategi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.


Marthin menegaskan, subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan kini telah terintegrasi dalam satu sistem untuk mempermudah koordinasi.

Namun, dirinya mengakui bahwa implementasi di lapangan masih menjadi tantangan.

"Koordinasi itu mudah diucapkan, tapi pelaksanaannya tidak sederhana. Karena itu, kita terus dorong integrasi nyata di lapangan," ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis di industri kelapa sawit global, dengan kontribusi sekitar 41 persen terhadap produksi dunia.

Kondisi ini, kata dia, menjadikan perkebunan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan yang mampu memengaruhi stabilitas pasar global.

"Kalau ada gangguan pada perkebunan kelapa sawit Indonesia, dampaknya bisa terasa secara global. Ini menunjukkan betapa strategisnya komoditas ini," tambahnya.




Meski demikian, Marthin menilai bahwa pembangunan sektor sawit masih belum sepenuhnya merata. Ia menyoroti perlunya peningkatan nilai tambah melalui integrasi dengan sektor peternakan.


"Petani sawit akan lebih maju jika terintegrasi dengan peternakan. Ini yang sedang kita dorong secara serius," jelasnya.

Pemprov Sumut, lanjutnya, telah mengeluarkan peraturan daerah (Perda) tentang integrasi ternak dan perkebunan, yang diperkuat dengan peraturan gubernur (Pergub) sebagai petunjuk pelaksanaan pada Maret 2026.

"Kebijakan ini menjadi landasan dalam mendorong sistem integrasi sapi dan kelapa sawit atau SISKA," ujar Martin Sibagariang.

Tidak hanya regulasi, menurutnya, pemerintah juga menyiapkan dukungan pendanaan melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk mempercepat implementasi program tersebut.

Dia mengatakan, saat ini Pemprov Sumut tengah melakukan tahap sosialisasi untuk kemudian dilanjutkan pelaksanaan lebih luas di lapangan.

"Pendanaan tidak hanya dari pelaku usaha, tetapi juga akan didukung pemerintah daerah. Ini bentuk komitmen kami," katanya.




Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan pelatihan teknis pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak.


Marthin menjelaskan bahwa pelepah sawit, bungkil inti sawit, hingga limbah padat (solid) dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba.

"Peternak tidak perlu lagi bergantung pada rumput. Sawit sudah menyediakan sumber pakan yang cukup, terutama untuk kebutuhan serat kasar," ungkapnya.

Selain itu, pelatihan juga mencakup pembuatan biocar dari limbah sawit yang memiliki nilai ekonomi serta manfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Ia berharap kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman petani dan peternak terkait teknik pengolahan limbah sawit, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

"Integrasi ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan menjaga kelestarian lingkungan," tutupnya.

Dengan langkah tersebut, Pemprov Sumut optimistis integrasi sawit dan peternakan dapat menjadi solusi inovatif dalam meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Sumber
:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Berkat Program SISKA, BRIN Raih Pengakuan FAO 80
Didukung TNI, Pemprov dan Kejati Sumut Sepakati Penerapan RJ untuk Keadilan yang Humanis
Perkebunan Kelapa, Kopi, dan Aren Jadi Salah Satu Prioritas Pengembangan Pemprov Sumut
Warga Medan Utara Kecewa: Dua RS Tolak Pasien Sekarat, UHC Cuma Slogan?
KPPU Kanwil I dan Pemprov Sumut Kolaborasi Dorong Persaingan Usaha Sehat dan Kemitraan UMKM
Desakan Publik Kalahkan Keputusan Letnan Dalimunthe dan Inpres Nomor 1 Tahun 2025 Terkait Gebyar HUT RI Di Padangsidimpuan
komentar
beritaTerbaru