Tebingtinggi , asatupro.com - Para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Pekebun Tunas Sawita (PPTS), Desa Serbananti,
Kecamatan Sipispis, Kabupaten
Serdang Bedagai (Sergai), mendapatkan pengenalan dan penggunaan
Spore Trap.
Ini merupakan sebuah teknologi yang bisa mendeteksi secara dini penyakit yang kemungkinan muncul di perkebunan kelapa sawit, seperti Ganoderma maupun kumbang tanduk.
Pengenalan teknologi Sore Trap itu, seperti keterangan resmi yang diterima media, Selasa (18/8/2026), disampaikan oleh sejumlah dosen dari kampus Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) dan Universitas Potensi Utama (UPU) dari kota Medan.
Mereka tergabung dalam sebuah tim pelaksana yang terdiri dari Guntoro SP MP sebagai ketua dan Nurliana SP MP. sebagai anggota (ITSI) dan Helmi Kurniawan ST MT yang merupakan dosen dari UPU.
Baca Juga:
Penciptaan teknologi Spore Trap itu didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Pendanaan 2026.
Ini merupakan dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan pemberdayaan masyarakat melalui perguruan tinggi yang terus diwujudkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat.
Melalui skema itu tim pengabdian melaksanakan program berjudul "Pemberdayaan Pekebun Kelapa Sawit melalui Pemanfaatan Teknologi Spore Trap sebagai Sistem Deteksi Dini Penyakit Karat Daun Berbasis Mikroklimat".
Baca Juga:
Kegiatan diawali dengan survei lapangan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi perkebunan, permasalahan yang dihadapi pekebun.
Serta pemahaman masyarakat terhadap penyakit tanaman dan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan penyakit.

Survei menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program karena teknologi yang diperkenalkan diharapkan benar-benar menjawab kebutuhan pekebun di lapangan.
Ketua tim PKM, Guntoro, mengatakan bahwa pendekatan program sengaja diawali dengan melihat kondisi nyata di lapangan sebelum menentukan bentuk pendampingan yang diberikan kepada masyarakat.
"Kami ingin program ini benar-benar berangkat dari kebutuhan pekebun. Karena itu, sebelum memberikan teknologi dan pelatihan, kami terlebih dahulu melihat kondisi kebun serta permasalahan yang dihadapi pekebun di lapangan," ujar Guntoro.
Menurutnya, pengelolaan penyakit tanaman membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan tindakan pengendalian ketika gejala telah muncul.
"Tetapi juga perlu diarahkan pada upaya pemantauan dan deteksi lebih awal," sambung Guntoro.
Setelah pelaksanaan survei, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan penyuluhan kepada anggota PPTS.
Dalam kegiatan tersebut, pekebun diperkenalkan dengan teknologi Spore Trap sebagai salah satu alat bantu untuk melakukan pemantauan keberadaan spora di lingkungan perkebunan.
Teknologi ini diharapkan dapat membantu pekebun memperoleh informasi lebih awal mengenai keberadaan inokulum penyakit, yang selanjutnya dapat dikaitkan dengan kondisi mikroklimat di sekitar tanaman.
Guntoro menjelaskan bahwa pengenalan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong perubahan pola pengamatan penyakit di tingkat pekebun.
"Kita ingin mengubah pola berpikir dari menunggu penyakit terlihat baru bertindak menjadi lebih aktif melakukan pemantauan dan deteksi dini," ujar Guntoro.

"Spore trap menjadi salah satu alat bantu untuk melihat keberadaan spora di lingkungan kebun," jelas Guntoro.
Dalam kegiatan penyuluhan, pekebun juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memperhatikan kondisi mikroklimat.
Seperti suhu, kelembapan, curah hujan, dan kondisi lingkungan lainnya yang berkaitan dengan perkembangan penyakit.
"Spore trap tidak berdiri sendiri. Informasi mengenai spora akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan kondisi mikroklimat," kata dia.
"Karena itu, pekebun perlu memahami hubungan antara kondisi lingkungan dengan perkembangan penyakit tanaman," lanjut Guntoro.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan pekebun dalam melakukan pengamatan secara mandiri, tim PKM juga melakukan penyerahan peralatan berupa spore trap dan mikroskop kepada PPTS.
Penyerahan peralatan itu menjadi salah satu bagian penting dalam program karena teknologi yang diperkenalkan tidak hanya diberikan dalam bentuk pengetahuan.
"Tetapi juga didukung dengan sarana yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok pekebun dalam kegiatan pemantauan di lapangan," ujar Guntoro.
Spore Trap digunakan sebagai perangkat untuk membantu menangkap dan memantau keberadaan spora.
Sedangkan mikroskop digunakan sebagai sarana pendukung untuk melakukan pengamatan terhadap hasil tangkapan spora.

Dengan adanya kedua peralatan tersebut, kelompok pekebun diharapkan memiliki sarana awal untuk membangun kegiatan pengamatan penyakit yang lebih sistematis.
Guntoro mengatakan bahwa penyerahan alat tersebut merupakan bentuk komitmen tim agar kegiatan tidak berhenti setelah penyuluhan selesai.
"Kami tidak ingin setelah kegiatan penyuluhan selesai, alat kemudian tidak dimanfaatkan," ujar Guntoro.
"Karena itu, spore trap dan mikroskop kami serahkan kepada kelompok pekebun agar dapat digunakan untuk kegiatan pengamatan dan pembelajaran secara berkelanjutan," sambung Guntoro.
Menurutnya, keberadaan alat di tingkat kelompok juga diharapkan dapat mendorong proses pembelajaran bersama antarpekebun.
"Harapannya, alat ini bukan hanya menjadi milik kelompok secara administratif, tetapi benar-benar menjadi sarana belajar bersama," lanjut Guntoro.
"Para pekebun dapat melakukan pengamatan, berdiskusi, dan secara bertahap memahami kondisi kebunnya berdasarkan data yang diperoleh," tambahnya.
Dia menjelaskan, program PKM ini tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan pekebun.
Dengan tujuan, lanjutnya, agar semakin mandiri dalam melakukan pengamatan terhadap kondisi tanaman dan lingkungan perkebunan.
Melalui pemanfaatan spore trap, dukungan pengamatan menggunakan mikroskop, serta pemantauan kondisi mikroklimat, pekebun diharapkan mulai memiliki pola pengelolaan penyakit yang lebih berbasis informasi.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan perkebunan yang lebih preventif.
Yaitu melakukan pemantauan dan mengenali potensi masalah sedini mungkin sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar.
Guntoro menegaskan bahwa keberhasilan program pengabdian tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan dan tersalurkannya bantuan peralatan, tetapi terutama dari keberlanjutan pemanfaatannya oleh masyarakat.
Menurutnya, ukuran keberhasilan program ini bukan hanya ketika alat sudah diterima oleh kelompok.
"Yang lebih penting adalah bagaimana alat tersebut dimanfaatkan, pengetahuan yang diberikan diterapkan, dan pekebun semakin mampu melakukan pengamatan secara mandiri," ujar Guntoro.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok pekebun, inovasi teknologi diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun sistem pemantauan penyakit tanaman yang lebih dini, sederhana, aplikatif, dan berkelanjutan di tingkat pekebun," tegas Guntoro.
Editor
: Hendrik Hutabarat
Tags
beritaTerkait
komentar