Guntoro mengatakan bahwa penyerahan alat tersebut merupakan bentuk komitmen tim agar kegiatan tidak berhenti setelah penyuluhan selesai.
"Kami tidak ingin setelah kegiatan penyuluhan selesai, alat kemudian tidak dimanfaatkan," ujar Guntoro.
"Karena itu, spore trap dan mikroskop kami serahkan kepada kelompok pekebun agar dapat digunakan untuk kegiatan pengamatan dan pembelajaran secara berkelanjutan," sambung Guntoro.
Menurutnya, keberadaan alat di tingkat kelompok juga diharapkan dapat mendorong proses pembelajaran bersama antarpekebun.
Baca Juga:
"Harapannya, alat ini bukan hanya menjadi milik kelompok secara administratif, tetapi benar-benar menjadi sarana belajar bersama," lanjut Guntoro.
"Para pekebun dapat melakukan pengamatan, berdiskusi, dan secara bertahap memahami kondisi kebunnya berdasarkan data yang diperoleh," tambahnya.
Dia menjelaskan, program PKM ini tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan pekebun.
Baca Juga:
Dengan tujuan, lanjutnya, agar semakin mandiri dalam melakukan pengamatan terhadap kondisi tanaman dan lingkungan perkebunan.
Melalui pemanfaatan spore trap, dukungan pengamatan menggunakan mikroskop, serta pemantauan kondisi mikroklimat, pekebun diharapkan mulai memiliki pola pengelolaan penyakit yang lebih berbasis informasi.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan perkebunan yang lebih preventif.
Editor
: Hendrik Hutabarat
Tags
beritaTerkait
komentar