Ketua tim PKM, Guntoro, mengatakan bahwa pendekatan program sengaja diawali dengan melihat kondisi nyata di lapangan sebelum menentukan bentuk pendampingan yang diberikan kepada masyarakat.
"Kami ingin program ini benar-benar berangkat dari kebutuhan pekebun. Karena itu, sebelum memberikan teknologi dan pelatihan, kami terlebih dahulu melihat kondisi kebun serta permasalahan yang dihadapi pekebun di lapangan," ujar Guntoro.
Menurutnya, pengelolaan penyakit tanaman membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan tindakan pengendalian ketika gejala telah muncul.
"Tetapi juga perlu diarahkan pada upaya pemantauan dan deteksi lebih awal," sambung Guntoro.
Setelah pelaksanaan survei, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan penyuluhan kepada anggota PPTS.
Baca Juga:
Dalam kegiatan tersebut, pekebun diperkenalkan dengan teknologi Spore Trap sebagai salah satu alat bantu untuk melakukan pemantauan keberadaan spora di lingkungan perkebunan.
Teknologi ini diharapkan dapat membantu pekebun memperoleh informasi lebih awal mengenai keberadaan inokulum penyakit, yang selanjutnya dapat dikaitkan dengan kondisi mikroklimat di sekitar tanaman.
Guntoro menjelaskan bahwa pengenalan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong perubahan pola pengamatan penyakit di tingkat pekebun.
"Kita ingin mengubah pola berpikir dari menunggu penyakit terlihat baru bertindak menjadi lebih aktif melakukan pemantauan dan deteksi dini," ujar Guntoro.
Baca Juga:

"Spore trap menjadi salah satu alat bantu untuk melihat keberadaan spora di lingkungan kebun," jelas Guntoro.
Editor
: Hendrik Hutabarat
Tags
beritaTerkait
komentar