Medan, asatupro.com - Kontribusi Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) Medan terhadap dunia industri kelapa sawit, baik di tingkat hulu maupun hilir, terus bermunculan dan seperti tidak berkesudahan.
Yang terbaru adalah kemunculan prototipe teknologi helm pintar berbasis internet of things (IoT) untuk keselamatan pengamanan lapangan pada perkebunan kelapa sawit.
Prototipe ini adalah hhasil karya dari Rasyid Abdullah Habib Syaban (NIM 220203025), mahasiswa Program Studi (Prodi) Sistem dan Teknologi Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) ITSI Medan.
Prototipe helm pintar ini diprediksi kelak sangat berguna bagi para pekerja perusahaan perkebunan maupun para petani, terutama saat hendak melakukan panen tandan buah segar (TBS) atau saat hendak melihat kondisi lapangan.
Baca Juga:
Harus dipahami bahwa sektor perkebunan kelapa sawit menyimpan potensi ekonomi luar biasa bagi Indonesia, namun tantangan keselamatan kerja di area operasional lapangan masih menjadi perhatian serius.
Medan perkebunan yang sangat luas, terpencil, serta minim infrastruktur komunikasi kerap menyulitkan pengawasan keselamatan para pekerja secara real-time.
Nah, di posisi inilah Rasyid Abdullah Habib Syaban menghadirkan inovasi tepat guna bertajuk "Prototipe Helm Pintar IOT untuk Keselamatan Pengamanan Lapangan pada Perkebunan Kelapa Sawit".
Baca Juga:
Sangat penting diingat bahwa dalam industri perkebunan unsur urgensi K3 harus bisa dihadirkan agar bisa menjawab tingginya resiko kecelakaan kerja nasional.
Inovasi helm pintar ini dilatarbelakangi oleh kondisi riil di lapangan dan menunjukkan kalau sistem pengawasan manual tidak lagi memadai untuk menjamin perlindungan pekerja.

"Potensi bahaya di perkebunan, mulai dari tertimpa pelepah atau tandan buah segar (TBS), sengatan hewan liar, hingga kecelakaan transportasi perkebunan, terfleksi nyata dalam data statistik nasional," kata
Rasyid Abdullah Habib Syaban kepada para wartawan di Medan, Sabtu (25/7/2026).
Dia lalu merujuk data
BPJS Ketenagakerjaan yang memperlihatkan sepanjang tahun 2023 tercatat sebanyak 224.000 dari total 370.000 kasus kecelakaan kerja nasional atau setara 60,5 persen terjadi di sektor perkebunan sawit.
"Angka ini melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan 169.000 kasus," ucapnya.
Lalu dia menjelaskan kalau prototipe helm pintar ini dirancang terintegrasi dengan dashboard pemantauan terpusat untuk mendeteksi bahaya, memantau posisi, serta memberikan sinyal darurat (SOS) secara real-time saat pekerja berada di area berisiko tinggi.
Dirinya melihat prototipe helm pintar ini selaras dengan Asta Cita Presiden dan Target SDGs Global, dan tidak sekadar menjadi karya akademis.
"Tetapi juga selaras dengan prioritas pembangunan nasional dan indikator keberlanjutan global," tambahnya.
Yaitu, pertama, relevansi dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dalam hal ini Asta Cita ke-4: memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, dan teknologi.
"Helm pintar ini menjadi bukti nyata penerapan teknologi mutakhir untuk melindungi SDM industri perkebunan nasional," kata dia.
Berikutnya adalah Asta Cita ke-8: memperkuat perlindungan tenaga kerja dan penyelarasan lingkungan kerja yang aman guna mewujudkan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan.
Inovasi prototipe helm pintar itu juga diprediksi memberikan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (TPB/SDGs).

Khususnya item ke-3 tentang good health and well being: menjamin kehidupan yang sehat serta meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan perkebunan.
Serta item ke-8 tentang decent work and economic growth: mendorong lingkungan kerja yang aman, layak, dan terlindungi bagi seluruh pekerja lapangan.
"Dan SDG's ke- 9 tentang industry, innovation, and infrastructure: mempercepat modernisasi teknologi dan inovasi berbasis IoT di sektor agribisnis kelapa sawit," katanya kembali.
Apresiasi dan Pendaftaran HKI
Riset skripsi ini dikembangkan di bawah bimbingan langsung dosen Prodi Sistem dan Teknologi Informasi ITSI, Ir. Andi Prayogi, S.Kom., M.Kom.
Dalam ujian akhir skripsi, karya inovatif ini diuji langsung oleh Rektor ITSI, Dr. Purjianto, S.E., M.M sebagai Penguji 2 dan Muhammad Akbar Syahbana Pane, S.T., M.Sc. sebagai Penguji 1.
Rektor ITSI, Dr. Purjianto, S.E., M.M memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan yang berdampak langsung bagi sektor industri perkebunan ini.
"Teknologi semakin berkembang dan sangat membantu aktivitas keselamatan serta efisiensi pengawasan," ujar Rektor ITSI.
"Saya berharap alat ini dapat dikembangkan lagi ke tahap produksi agar dapat digunakan untuk kemaslahatan umat dan tercapainya Visi dan Misi Institut Teknologi Sawit Indonesia," ungkap Dr. Purjianto.
Ia menegaskan kembali komitmen ITSI dalam mengawal riset-riset aplikatif yang memberi solusi nyata di lapangan.
"ITSI siap menjadi dan menjembatani tempat atau wadah di mana teknologi yang berkaitan dengan dunia perkebunan, khususnya sawit, untuk mengembangkan IPTEK yang berkelanjutan," lanjutnya.

Guna menjaga orisinalitas riset serta membangun ekosistem inovasi kampus yang berkelanjutan, inovasi
Helm Pintar IoT ini selanjutnya akan didaftarkan ke Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) ITSI.
Tags
beritaTerkait
komentar