Dia lalu merujuk data
BPJS Ketenagakerjaan yang memperlihatkan sepanjang tahun 2023 tercatat sebanyak 224.000 dari total 370.000 kasus kecelakaan kerja nasional atau setara 60,5 persen terjadi di sektor perkebunan sawit.
"Angka ini melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan 169.000 kasus," ucapnya.
Lalu dia menjelaskan kalau prototipe helm pintar ini dirancang terintegrasi dengan dashboard pemantauan terpusat untuk mendeteksi bahaya, memantau posisi, serta memberikan sinyal darurat (SOS) secara real-time saat pekerja berada di area berisiko tinggi.
Dirinya melihat prototipe helm pintar ini selaras dengan Asta Cita Presiden dan Target SDGs Global, dan tidak sekadar menjadi karya akademis.
Baca Juga:
"Tetapi juga selaras dengan prioritas pembangunan nasional dan indikator keberlanjutan global," tambahnya.
Yaitu, pertama, relevansi dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dalam hal ini Asta Cita ke-4: memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, dan teknologi.
"Helm pintar ini menjadi bukti nyata penerapan teknologi mutakhir untuk melindungi SDM industri perkebunan nasional," kata dia.
Baca Juga:
Berikutnya adalah Asta Cita ke-8: memperkuat perlindungan tenaga kerja dan penyelarasan lingkungan kerja yang aman guna mewujudkan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan.
Inovasi prototipe helm pintar itu juga diprediksi memberikan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (TPB/SDGs).

Khususnya item ke-3 tentang good health and well being: menjamin kehidupan yang sehat serta meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan perkebunan.
Tags
beritaTerkait
komentar