Indonesia: Pusat Tokotrienol dan Beta-Karoten Alami Dunia
Jakarta, asatupro.com Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, sekaligus pe
Perkebunan
Direktur Konsorsium Hutan dan Sungai (KHAS) Aceh, Khairul Abrar IH, dalam rilis yang dikirim ke media ini menegaskan bahwa skala kerusakan yang terjadi tidak bisa semata-mata dilihat sebagai faktor alam. Ia menyebut, perubahan bentang alam akibat alih fungsi lahan secara besar-besaran telah memperparah dampak banjir di wilayah tersebut.
"Ini bukan sekadar bencana alam. Ada persoalan serius dalam tata kelola ruang. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali telah mengurangi daya dukung lingkungan secara drastis," ujarnya.
Banjir tersebut menghancurkan berbagai sektor vital masyarakat. Ribuan hektare sawah mengalami kerusakan, tambak rakyat lumpuh total, dan infrastruktur pendukung seperti jaringan irigasi serta aliran sungai tidak lagi berfungsi optimal. Kondisi ini membuat banyak warga kehilangan sumber penghidupan utama mereka.
Baca Juga:
Khairul secara khusus menyoroti maraknya perubahan fungsi lahan menjadi kawasan perkebunan, termasuk ekspansi perkebunan skala besar seperti tanaman sawit, yang dinilai menggerus tutupan lahan alami secara signifikan. Hilangnya kawasan resapan air ini berdampak langsung pada meningkatnya volume limpasan air saat hujan deras.
"Ketika hutan dan lahan alami diubah menjadi perkebunan tanpa perencanaan yang matang, maka kita sedang menyiapkan bencana. Tanah tidak lagi mampu menyerap air, dan akhirnya banjir menjadi tak terhindarkan," tegasnya.
Sebagai salah satu dari anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sungai Wilayah Sungai Pase–Peusangan, ia juga menilai lemahnya pengawasan serta mudahnya penerbitan izin menjadi faktor yang mempercepat laju kerusakan lingkungan di Bireuen. Karena itu, KHAS Aceh mendesak Bupati Bireuen untuk bertanggung jawab atas kondisi tersebut.
Baca Juga:
"Kami mendesak evaluasi total terhadap seluruh izin perkebunan dan pertambangan yang telah dikeluarkan. Jangan lagi ada rekomendasi baru tanpa kajian lingkungan yang ketat dan transparan," katanya.
KHAS Aceh juga mengingatkan bahwa tanpa langkah tegas dari pemerintah daerah, resiko bencana serupa akan terus berulang dengan skala yang lebih besar. Alih fungsi lahan yang dibiarkan tanpa kontrol dinilai sebagai ancaman nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Selain itu, pemerintah diminta untuk segera fokus pada langkah pemulihan, mulai dari normalisasi sungai, rehabilitasi jaringan irigasi, hingga pemulihan lahan pertanian dan tambak milik warga.
"Rakyat hari ini menanggung dampak dari kebijakan yang keliru. Pemerintah tidak boleh lepas tangan. Harus ada tanggung jawab nyata dan langkah konkret untuk memperbaiki keadaan," tutup Khairul.Rel/**
Jakarta, asatupro.com Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, sekaligus pe
Perkebunan
Polres Dairi Berhasil mengungkap Drama Begal Rp 297 Juta, Pelaku Diduga Terjerat Judi Online
Daerah
Lapor Pak Wali Kota Rico Waas! Dugaan Kuat Sky Cross RSIA Rosiva Murni Teguh Langgar Perda, PBG Dipertanyakan
Peristiwa
Penandatanganan Komitmen Bersama Sensus Ekonomi 2026 Kabupaten Dairi
Daerah
Sat Narkoba Polres Simalungun Terima Piagam Penghargaan dari Pemkab atas Keberhasilan Operasi Antik Toba 2026
Daerah
Ekspansi Togel di Deli Serdang Jaringan Situmorang Rambah Kawasan Padat Penduduk Perumnas dan Bangun Sari
Hukrim
Polres Pematangsiantar Gelar Pemusnahan Barang Bukti Narkotika
Hukrim
Sebut Urus Perkara di Polisi Bayar Rp25 Juta, Ketua Bobby Lovers Diduga Cemarkan Nama Baik Polri
Medan
HARI Desak Kejati dan Kejari SeIndonesia Bongkar Mafia MBG, Jangan Hanya Berhenti di Pusat
Nasional
Komandan Resiman Arhanud 1 Pasgat Bersama Para Perwira Kunjungi Kantor Bea Cukai Medan
Medan