Ia membeberkan, pendapatan operasional sebelum pencadangan atau PPOP pada kuartal III-2024 mencapai Rp 8,8 triliun atau telah hampir menyentuh posisi tertingginya pada kuartal III tahun lalu sebesar Rp 8,9 triliun.
"Pencapaian PPOP yang solid ini berasal dari kenaikan margin bunga bersih atau net interest nargin (NIM) maupun pendapatan non bunga," ungkap Royke Tumilaar.
Kata dia, NIM perseroan naik 40 bps secara kuartalan menjadi 4,4 persen ditopang oleh perbaikan yield kredit maupun penurunan biaya dana.
Baca Juga:
"Sedangkan pertumbuhan fee income didorong oleh pendapatan loan recovery, trade finance dan transaksi pembayaran melalui aplikasi wondr by BNI yang terus meningkat," ujar Royke Tumilaar.
Penyaluran kredit, ia melanjutkan, naik 9,5 persen secara tahunan atauyear on year (YoY) menjadi Rp 735 triliun ditopang oleh segmen berisiko rendah.
Kemudian, kata dia lagi, kredit korporasi blue chip, baik dari sektor swasta maupun BUMN serta institusi pemerintah, kredit konsumer, dan kontribusi dari perusahaan anak menjadi sumber pertumbuhan terbesar.
Baca Juga:
"Fokus transformasi kami tahun ini telah memperbaiki struktur dana pihak ketiga dan kami berharap diversifikasi sumber dana ini akan lebih baik lagi ke depan," tegas Royke Tumilaar.
Editor
: Hendrik Hutabarat
Tags
beritaTerkait
komentar