Model seperti ini sekaligus mengubah posisi pelatihan dari sekadar kegiatan transfer pengetahuan menjadi ruang untuk membangun kemampuan memecahkan persoalan.
Bagi sektor sawit rakyat, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Produktivitas tidak hanya membutuhkan tanaman dengan potensi produksi tinggi, tetapi juga membutuhkan pengelola kebun yang mampu membaca kondisi tanaman dan mengambil keputusan secara tepat.
Pada akhirnya, pengembangan sumber daya manusia perkebunan tidak cukup dilakukan dengan menambah pengetahuan. Pengetahuan harus dapat diterjemahkan menjadi keterampilan dan kebiasaan kerja yang lebih baik.
Itulah sebabnya praktik lapang menjadi bagian penting dalam pelatihan. Ruang kelas memberikan dasar pemahaman, sementara lapangan memberikan konteks.
Baca Juga:
Ketika keduanya dipadukan, pekebun memiliki kesempatan lebih besar untuk menghubungkan apa yang dipelajari dengan persoalan nyata yang mereka hadapi setiap hari di kebun.
Editor
: Hendrik Hutabarat
Tags
beritaTerkait
komentar