Selama ini, kata dia, buku ini telah menjadi referensi penting dalam berbagai forum baik forum nasional maupun forum internasional.
Buku ini juga menjadi salah satu referensi dalam perundingan di Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) dan dialog dengan Uni Eropa terkait kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Kegiatan bedah dan diseminasi buku Mitos Vs Fakta Sawit di UNJA ini diikuti oleh para mahasiswa dari berbagai universitas di Provinsi Jambi.
Membuka sesi diskusi, Dr Tungkot Sipayung selaku Ketua tim penyusun buku Mitos Vs Fakta Sawit, menyampaikan bahwa latar belakang penyusunan buku Mitos Vs Fakta Sawit sebagai pengantar diskusi.
Baca Juga:
Kehadiran minyak sawit telah merubah peta persaingan di pasar minyak nabati global. Dari segi harga (price competition), minyak sawit lebih unggul dibandingkan minyak nabati lainnya karena harganya relatif kompetitif atau lebih murah.
Dominasi sawit tersebut membuat produsen minyak nabati lainnya menggunakan startegi non-price competition melalui penyebaran isu-isu yang bertujuan menurunkan konsumsi minyak sawit.
Misalnya pada tahun 1970-an, American Soybean Assosiation (ASA) menuduh minyak sawit mengandung kolesterol dan merekomendasikan Pemerintah USA untuk melarang penggunaan minyak sawit di Amerika Serikat.
Baca Juga:
Isu tersebut berhasil dibantah dengan berbagai riset yang menunjukkan minyak sawit tidak mengandung kolesterol. Selanjutnya pihak-pihak anti sawit tersebut menggunakan isu lingkungan dan sosial untuk kembali menjegal sawit di pasar global.
Tags
beritaTerkait
komentar