Rapat Ke-2 SEKBER FAHMI: Perkuat Sinergi Advokat dan Media, Siap Bentuk Tim Ahli Hingga Pengembangan Aplikasi
Rapat Ke2 SEKBER FAHMI Perkuat Sinergi Advokat dan Media, Siap Bentuk Tim Ahli Hingga Pengembangan Aplikasi
Medan
Jakarta,asatupro.com-Kementerian Keuangan buka suara soal tuntutan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia untuk menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro mengatakan saat ini pemerintah tengah melaksanakan evaluasi atas program-program prioritas APBN agar lebih efisien dan efektif. Pemerintah juga tengah melakukan perbaikan terhadap tata kelola.
"Kami tentunya sangat berterima kasih atas masukan dan aspirasi mahasiswa dan masyarakat," ujar Deni kepada Bloomberg Technoz, Sabtu (13/6/2026).
Tak hanya itu, Deni mengatakan pemerintah juga bersinergi dengan aparatur pengawasan dan aparat penegak hukum (APH) untuk melakukan evaluasi pelaksanaan program prioritas tersebut.
Baca Juga:
Kemarin, BEM UI bersama sejumlah elemen mahasiswa lainnya melakukan aksi penyampaian pendapat. Mereka memiliki lima tuntutan dalam aksi bertajuk Menuju Indonesia Bangkrut tersebut. Pertama, pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kedua, turunkan harga kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak. Ketiga, hentikan program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Keempat, hentikan militerisme di ranah sipil. Kelima, Presiden Prabowo Subianto berhenti mengelak dan mengakui kesalahannya.
Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Mei 2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibanding posisi pada periode yang sama tahun lalu, yakni Rp20,9 triliun atau 0,09% terhadap PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan defisit ini masih jauh di bawah target defisit sepanjang 2026 yang mencapai -Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Baca Juga:
Kendati mengalami defisit, posisi keseimbangan primer APBN 2026 mencatatkan surplus Rp58,6 triliun sampai Mei 2026. Angka ini lebih rendah dibanding nominal surplus pada periode yang sama tahun lalu Rp192,2 triliun.
Realisasi defisit terjadi akibat total pendapatan negara lebih rendah dibanding realisasi belanja negara sampai lima bulan pertama tahun ini.
"Realisasi pendapatan negara tercatat Rp1.185 triliun sampai Mei 2026, atau tumbuh 19,1% dibanding periode yang sama tahun lalu," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta, Jumat (5/6/2026).
Secara porsi, realisasi pendapatan negara tercatat 37,6% dari total target APBN yang sebesar Rp3.153 triliun.
Di sisi lain, realisasi belanja negara tercatat Rp1.365,4 triliun atau melonjak 34,4% dibanding Mei 2025. Porsinya 35,5% terhadap target belanja yang mencapai Rp3.842 triliun.
Dengan demikian, realisasi pembiayaan anggaran negara tercatat Rp379,4 triliun atau tumbuh 16,2% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp326,5 triliun.
Rapat Ke2 SEKBER FAHMI Perkuat Sinergi Advokat dan Media, Siap Bentuk Tim Ahli Hingga Pengembangan Aplikasi
Medan
KPKMRI Perkuat Pendampingan Hukum, Biro Hukum Tegaskan Hak Togu Ambarita dan Mariduk Pasaribu Wajib Dilindungi
Peristiwa
Kemdiktisaintek Hadir di Desa, Undhira dan STB Runata Dorong Hilirisasi Pangan Lokal di Bedulu Gianyar
Pendidikan
Satupena.co.id Tetapkan HUT Ke4 Digelar 22 Agustus 2026 di Aceh Tengah
Daerah
Cipayung Plus Sumut Gelar Rapat Rakyat Melawan Narkoba, Libatkan 500 Mahasiswa dan Pelajar
Nasional
SEKBER FAHMI Soroti Kejanggalan Kematian Winda Lorenza Gowasa, Dorong Polrestabes Medan Lebih Terbuka
Hukrim
Dana Desa Lau Bagot Rp595 Juta Tahun 2025 Jadi Sorotan, Kades Sunardi Bungkam dan Ingkari Janji Bertemu dengan Media
Daerah
Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Kenakan Rompi Pink, Tangan Diborgol, Bawa Map Biru
Nasional
Ada Mainan Korupsi Dalam Manipulasi Proyek Pengadaan Barang dan Jasa di RSUD O.K Arya Zulkarnaen Batubara, Dugaan Kuat Menjadi Proyek
Peristiwa
Undhira Inisiasi SIMKES, Pengelolaan Data Kesehatan Siswa Kini Lebih Cepat dan Terintegrasi
Pendidikan