Jumat, 24 Juli 2026
LEBARAN HAJI 1447 H

Ditopang CPO, PalmCo Raup Cuan Lebih Rp 3 Triliun pada Semester I 2026

Hendrik Hutabarat - Jumat, 24 Juli 2026 19:00 WIB
Ditopang CPO, PalmCo Raup Cuan Lebih Rp 3 Triliun pada Semester I 2026
Dok. PalmCo
PalmCo mencatatkan pertumbuhan laba yang progresif pada Semester I 2026.
Jakarta, asatupro.com - Pada semester I (Januari - Juni) 2026 Subholding PTPN IV PalmCo yang merupakan bagian dari PTPN III, berhasil meraup cuan atau laba dalam jumlah yang banyak.

"Kinerja keuangan kami terus melesat dan menunjukkan tren pertumbuhan yang agresif pada pertengahan tahun ini," terang Jatmiko Krisna Santosa selaku Direktur Utama (Dirut) PalmCo dalam keterangan resmi kepada sejumlah media, Jumat (24/7/2026).

Dia menyebutkan, sepanjang Semester I 2026, entitas subholding BUMN perkebunan ini berhasil mengantongi laba bersih konsolidasian atau yang belum teraudit sebesar Rp 3,23 triliun.

Angka tersebut, sambungnya lagi, tumbuh hingga 54 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun 2025 lalu.

Baca Juga:

Pihaknya melihat kenaikan bottom line di pertengahan tahun ini sejalan dengan pencapaian pendapatan perusahaan yang menembus Rp 23,41 triliun, atau tumbuh 11 persen secara YoY.

Kalau, dari mana cuan itu bisa bertambah dalam jumlah banyak? Kata Jatmiko Krisna Santosa, penjualan dari minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tetap menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai Rp 19,36 triliun.

"Dan hal ini pun terdorong oleh tren positif pada volume penjualan CPO di pasar domestik maupun penetrasi di pasar global," ujarnya kembali

Baca Juga:

Dia menjelaskan, sepanjang Semester I terjadi penguatan harga jual rata-rata CPO yang menyentuh Rp 15.034 per kilogram (Kg) atau 6 persen di atas periode yang sama tahun lalu.

"Situasi ini membuat PalmCo dapat memaksimalkan momentum tersebut melalui peningkatan volume penjualan CPO dan efisiensi biaya yang berkelanjutan," kata Jatmiko Krisna Santosa.

Selain itu, pihaknya pun berhasil melakukan pengendalian biaya, namun di saat yang sama mampu melakukan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan.


Dia bilang, ini adalah hal yang fundamental dan membuat kenaikan harga CPO sebesar 6 persen di pertengahan tahun 2026 mampu membuahkan lonjakan laba hingga 54 persen di tengah berbagai tantangan.

Dari sisi operasional perkebunan, tren peningkatan ekstraksi hasil kebun perusahaan menunjukkan kurva yang positif.

Pada semester pertama tahun ini, tingkat produktivitas CPO perusahaan mencapai 2,14 Ton/Ha. Capaian ini juga diikuti oleh kenaikan tingkat rendemen CPO kebun sendiri yang berada di level 23,48 persen, tumbuh positif secara YoY.

Terkait perbaikan metrik operasional tersebut, Jatmiko menekankan bahwa salah satu kuncinya berada pada standardisasi kerja.

"Peningkatan produktivitas dan rendemen CPO merupakan buah dari perbaikan proses bisnis di pabrik kelapa sawit dan percepatan kultur teknis di lapangan," kata dia.

"Kami memastikan setiap ton bahan baku yang masuk ke pabrik diolah dengan tingkat efisiensi dan pengawasan maksimum," paparnya.

Lonjakan laba perseroan juga tidak terlepas dari langkah mitigasi pengeluaran. PTPN IV PalmCo tercatat mampu menekan Cash Cost komoditas sawit hingga ke level Rp3.707 per Kg.

Langkah penekanan beban operasional ini membantu menjaga tingkat margin keuntungan perusahaan dari tekanan inflasi maupun dinamika eksternal lainnya.

Pihaknya menilai pengendalian beban pokok operasional adalah pilar utama ketahanan PalmCo pada saat ini.

Kemudian, serapan pemupukan yang terukur serta optimalisasi mesin pabrik membuat margin kami sangat terjaga dan sehat.


Hal ini memberikan daya ungkit terhadap keuntungan, sehingga setiap peningkatan di level pendapatan langsung berdampak masif pada perbaikan bottom line perusahaan," tambah Jatmiko.

Seiring dengan perbaikan kinerja laba, fundamental keuangan perseroan juga menunjukkan postur yang semakin kokoh.

Kinerja Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) tercatat menyentuh angka Rp 6,05 triliun, atau tumbuh 29 persen YoY.

Sementara itu, pada semester awal tahun ini untuk nilai aset PTPN IV PalmCo tumbuh 6 persen secara tahunan menjadi Rp81,57 triliun.

Pertumbuhan aset ini berjalan beriringan dengan langkah manajemen dalam menata portofolio kekayaan perusahaan secara berkelanjutan.

"Pertumbuhan aset itu sejalan dengan komitmen kami dalam mengamankan aset negara melalui tata kelola perusahaan yang baik.

Optimalisasi aset yang kami lakukan tidak hanya bertujuan untuk mendongkrak valuasi secara pencatatan, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang riil bagi pemegang saham dan negara," tegas Jatmiko.

Akselerasi Ekspor CPO Ciptakan Nilai Tambah
Selain efisiensi dan pemenuhan pasar domestik, optimalisasi penjualan melalui ekspor CPO turut menjadi katalis penting bagi perolehan laba perseroan.

Sejalan dengan arahan pemerintah dalam mengoptimalisasi penjualan ekspor, PalmCo melakukan penetrasi pasar ekspor CPO ke Tiongkok (China) dan India.

Tercatat, untuk periode 25 Mei hingga 8 Juli 2026, perseroan berhasil mengekspor minyak sawit sebesar 129.500 Ton CPO.


Tunda Panen Demi Mutu, Bisnis Kopi Tetap Cetak Laba
Selanjutnya di luar komoditas utama kelapa sawit, manajemen PTPN IV PalmCo juga mengambil kebijakan teknis yang cukup strategis pada portofolio bisnis kopi mereka.

Pada semester pertama ini, perusahaan memutuskan untuk menunda sebagian jadwal panen kopi akibat faktor pergeseran iklim.

Langkah ini diambil guna menjaga standar kualitas specialty grade dan memastikan kematangan biji kopi (petik merah) sepenuhnya memenuhi spesifikasi pasar premium.

Meski terdapat penyesuaian jadwal panen yang berdampak pada volume, lini bisnis kopi tetap berkontribusi positif dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,49 miliar di pertengahan tahun ini.

"Keputusan menunda panen kopi adalah bukti nyata komitmen kami terhadap filosofi kualitas di atas kuantitas," kata Jatmiko.

Pihaknya ingin mempertahankan kepercayaan tinggi dari para pembeli terhadap mutu kopi PTPN.

"Dan terbukti, langkah manajemen yang mengedepankan integritas produk ini tetap mampu memberikan kontribusi laba bagi perseroan," jelasnya.

Memasuki sisa tahun 2026, PTPN IV PalmCo berencana mempercepat program pemupukan dengan memanfaatkan ketersediaan stok di gudang dan pasokan yang akan didistribusikan pada Semester II.

Perusahaan juga menegaskan komitmen keberlanjutannya dalam mendukung ketahanan energi nasional, salah satunya dengan memastikan pasokan bahan baku secara konsisten untuk pengembangan renewable biogasoline.

Tidak hanya pada kebun inti, perusahaan juga terus menggesa program peremajaan sawit rakyat untuk meningkatkan produksi dan produktivitas CPO nasional.


Meski demikian, dengan capaian semester I ini manajemen menilai hasil tersebut bukan merupakan akhir dari proses transformasi.

Perusahaan menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap aspek operasional, penguatan manajemen risiko, serta peningkatan efisiensi guna menjaga keberlanjutan kinerja.

"Capaian 6 bulan ini adalah landasan yang baik, namun ini baru permulaan. Dinamika industri agribisnis yang terus bergerak menuntut kami untuk terus adaptif," ucapnya.

Oleh karena itu, dia bilang, continuous improvement mutlak PalmCo lakukan di semua lini agar tercipta pertumbuhan eksponensial dan penciptaan nilai tambah yang berkesinambungan.

"Khususnya bagi pemegang saham, ekosistem industri, dan masyarakat luas bisa terwujud," pungkas Jatmiko Krisna Santosa.

Sumber
:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Harga CPO Naik Harga TBS Melorot, 10 Utusan PKS di Sumut "Disetrap" Pemerintah
Bisnis Kopi, Teh, Karet Produksi PalmCo Semakin Kinclong
Cuan Banyak, Laba Bersih PalmCo Tembus 90,3 Persen
Kebun Sawit Dijarah, Ekonomi Ribuan Karyawan  PTPN Cot Girek Jadi Tertekan
Perkuat Kualitas Pendataan, BPS Medan Latih Petugas Sensus Ekonomi
PTPN IV PalmCo Gesa Skema "BUMN untuk Sawit Rakyat"
komentar
beritaTerbaru