Selain pembelajaran di kelas, peserta juga aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung di kebun masing-masing.
PT CWE, kata Nugroho, menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para petani setelah pelatihan selesai.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu petani dalam menerapkan hasil pelatihan dengan praktik budidaya yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil perkebunan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Muhammad Neng, mengapresiasi PT CWE, BPDP, dan Ditjenbun, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya pelatihan ini.
Baca Juga:
Pemerintah berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan budidaya kelapa sawit sesuai standar GAP sehingga produksi tandan buah segar dapat memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Morowali Utara dipilih sebagai lokasi pelaksanaan pelatihan karena merupakan daerah dengan areal perkebunan kelapa sawit terbesar di Sulteng, yaitu lebih dari 38.000 hektar (Ha), yang terdiri atas perkebunan perusahaan, plasma, dan perkebunan rakyat.
Kabupaten ini juga memiliki lima pabrik kelapa sawit yang menjadi penunjang utama industri sawit di wilayah tersebut.
Baca Juga:
Potensi tersebut menjadikan peningkatan kapasitas petani sebagai langkah penting dalam mendukung pembangunan perkebunan yang produktif dan berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan pelatihan ini, diharapkan para petani mampu meningkatkan kompetensi, menerapkan praktik budidaya yang berkelanjutan, serta meningkatkan produktivitas kebun masing-masing.

Sinergi antara Direktorat Jenderal Perkebunan,
BPDP, PT Citra Widya Education, pemerintah daerah, dan para petani diharapkan dapat terus memperkuat pembangunan perkebunan kelapa sawit Indonesia yang maju, produktif, dan berkelanjutan.
Tags
beritaTerkait
komentar