Minggu, 24 Mei 2026

PalmCo Pulihkan Psikologi Korban Banjir Bandang di Batang Toru Melalui Pondok Rangkul

Hendrik Hutabarat - Selasa, 23 Desember 2025 20:14 WIB
PalmCo Pulihkan Psikologi Korban Banjir Bandang di Batang Toru Melalui Pondok Rangkul
Dok. PalmCo
Direktur Utama PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, berfoto bersama anak-anak dari Unit Kebun Hapesong di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Senin (22/12/2025).
Hapesong, asatupro.com - Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, kembali menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap korban bencana alam banjir bandang, termasuk di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Jika sebelumnya yang diberikan dalam bentuk bantuan bahan pokok, termasuk minyak goreng, maka kali ini PalmCo memberikan bantuan pemulihan psikologi kepada warga terdampak bencana alam, dalam hal ini di Unit Kebun Hapesong, Kabupaten Batang Toru.

Di wilayah itu, seperti keterangan resmi yang diterima sejumlah media, Selasa (23/12/2025), bantuan psikologi itu mengambil wujud yang lebih hening, yaitu ruang aman untuk memulihkan luka batin warga.

Pada hari Senin (22/12/2025), PTPN IV PalmCo meresmikan *Pondok Rangkul*, sebuah ruang pemulihan trauma bagi masyarakat terdampak banjir.

Baca Juga:

Pondok sederhana itu berdiri di tengah kawasan perkebunan, namun kehadirannya segera menyatu dengan denyut kehidupan warga.




Anak-anak kembali bermain dan tertawa, para ibu berkumpul dan berbagi cerita, sementara keluarga menemukan ruang untuk saling menguatkan setelah masa-masa sulit yang mereka lalui.

Baca Juga:

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pengalaman bencana menunjukkan bahwa bantuan fisik saja tidak cukup. Ada sisi lain yang kerap luput, yakni pemulihan mental dan emosional masyarakat.

"Pondok Rangkul kami hadirkan sebagai ruang untuk bertumbuh bersama dan saling menguatkan. Pemulihan pascabencana harus menyentuh keutuhan manusia, bukan hanya rumah dan infrastruktur," ujar Jatmiko.

Menurut dia, pendekatan psikososial menjadi bagian dari tanggung jawab kemanusiaan perusahaan. Karena itu, Pondok Rangkul dirancang bukan sebagai program sesaat, melainkan ekosistem pemulihan yang berkelanjutan.

Pendekatan tersebut dijalankan bersama Yayasan Pulih, lembaga yang berpengalaman dalam pendampingan psikososial pascabencana.

Direktur Yayasan Pulih, psikolog Livia Istania DF Iskandar, menjelaskan bahwa Pondok Rangkul menjadi ruang ramah bagi warga untuk memulihkan diri secara perlahan.




"Pemulihan mental, emosi, dan jiwa membutuhkan waktu dan kesinambungan. Di ruang yang aman, anak-anak dan orang tua bisa mengekspresikan perasaan, belajar kembali rasa aman, serta membangun ketahanan psikologis," kata Livia.


Program yang dijalankan mencakup psychological first aid (PFA), kegiatan pemulihan trauma anak, pendampingan ibu dan keluarga, ruang bermain edukatif, hingga sesi pemulihan berbasis komunitas.

Seluruh rangkaian itu, kata Livia Istania DF Iskandar, direncanakan berlangsung selama enam bulan.

Peluncuran Pondok Rangkul tersebut diawali dengan peninjauan Direktur Utama PalmCo Jatmiko Krisna Santosa ke sejumlah fasilitas pendukung pengungsian.

Seperti mushala yang difungsikan sebagai ruang aman, klinik darurat, posko tanggap darurat, dan dapur umum.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi seiring dimulainya fase pemulihan.

Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Nelwan Harahap, mengapresiasi kolaborasi antara dunia usaha dan lembaga profesional dalam program ini.


Menurut Nelwan Harahap, pemulihan pengungsi tidak boleh berhenti pada fase darurat.

"Sinergi seperti ini penting agar penanganan bencana menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar, termasuk kesehatan mental dan sosial masyarakat," ujarnya.

Apresiasi juga datang dari tingkat desa. Kepala Desa Lobu Uhom menuturkan bahwa kehadiran Pondok Rangkul memberi dampak nyata bagi warganya.

"Anak-anak kembali tersenyum, para ibu merasa didengar, dan warga punya tempat untuk saling menguatkan. Ini sangat berarti bagi kami," katanya.

Nuansa pemulihan itu kian terasa ketika peresmian Pondok Rangkul dirangkaikan dengan peringatan Hari Ibu.




Dalam suasana dialog yang hangat, Jatmiko berdiskusi dengan para ibu dan anak-anak tentang pengalaman mereka melewati masa bencana.


Lebih dari 200 anak hadir dalam kegiatan tersebut, mengikuti interaksi yang dirancang untuk menumbuhkan kembali rasa aman dan kebahagiaan.

Menutup rangkaian acara, Jatmiko menegaskan bahwa Pondok Rangkul diharapkan menjadi titik awal bagi bangkitnya kembali kehidupan warga Batang Toru.

"Ruang ini adalah simbol bahwa tidak ada yang sendirian menghadapi masa sulit. Dari sini, kami berharap pemulihan dapat tumbuh dan berlanjut," ujarnya.

Di tengah luka akibat bencana, Pondok Rangkul menjadi pengingat bahwa pemulihan sejati juga lahir dari perhatian, empati, dan keberpihakan pada ketahanan manusia—terutama para ibu dan anak yang kerap menjadi penopang keluarga di masa krisis.

Sumber
:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Kasus BBM Subsidi di Tapsel Diduga Ditutup-Tutupi, SPBU Pemasok Belum Tersentuh Hukum
Rupiah Sawit di Lahan Transmigrasi Menggiurkan, Konflik Horizontal Diduga Sengaja Diciptakan
Menunggu Harapan dari Tepian Muara Batang Toru
PalmCo Gelar Donor Darah, Hampir Seribu Kantong Terkumpul
Booth Teknologi mySAP365 DevAgro Foundry AI di Palmex 2026 Jakarta Diminati Pelaku Usaha Sawit
Didukung Kementan, GAPKI dan RPN Resmi Lepas SDG Sawit Asal Tanzania di Kebun Socfindo
komentar
beritaTerbaru