Ratusan Peserta Jalani Sidang Pantukhir yang Dipimpin Pangdam I/BB
Medan, asatupro.com Sebanyak 678 peserta menjalani sidang Pantukhir Pusat Calon Bintara (Caba) Prajurit Karier (PK) TNI AD Gelombang III T
Medan
Banjarmasin, asatupro.com - Proses advokasi soal sawit baik dilakukan oleh Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan cara yang unik: bedah buku berjudul "Mitos Vs Fakta: Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global Edisi Keempat".
Dalam pernyataan resmi yang diterima sejumlah media, Senin (22/9/2025), disebutkan bahwa advokasi sawit tersebut dilakukan PASPI dan BPDP di Gedung Serbaguna Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarbaru, Sabtu (20/9/2025).
Dalam kegiatan itu, PASPI dan BPDP menggandeng Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEP) dan Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian (Faperta) ULM, serta diikuti oleh para mahasiswa dan dosen dari ULM dan kampus lainnya.
Seperti dari kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjary, Universitas Borneo Lestari (UBL) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari.
Baca Juga:
Selain mahasiswa dan dosen, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan asosiasi pelaku sawit dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) cabang Provinsi Kalsel.
Advokasi dalam bentuk diseminasi bedah buku itu juga diikuti oleh para pakar dari ULM seperti Dr Ir Arief Rahmad Maulana Akbar MSi IPU (Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum ULM) dan Prof Dr Ir Ika Sumantri SPt MSi M.Sc (Wakil Dekan Fakultas Pertanian ULM).
Baca Juga:
Dalam sambutannya, kedua pejabat ULM itu yakin kelapa sawit adalah komoditas penting yang memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia.
Fakta lapangan juga menunjukkan bahwa perkebunan sawit mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun di sisi lain, dinamika juga turut mewarnai industri sawit yakni dengan masifnya berbagai kampanye maupun isu negatif yang menyudutkan sawit.
Oleh karena itu, diharapkan melalui forum akademik ini dapat disampaikan data dan fakta berbasis riset untuk meluruskan informasi yang menyudutkan sawit sehingga mahasiswa dapat memahami mana fakta atau hanya sekadar hoaks.
Secara daring, Helmi Muhansyah selaku Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) BPDP menyampaikan besarnya kontribusi industri sawit dalam neraca perdagangan Indonesia.
Kata dia, kontribusi itu ditunjukkan dengan devisa ekspor sawit yang mampu menghasilkan surplus besar pada neraca perdagangan non-migas.
Implementasi program mandatori biodiesel (B40) juga mampu mengurangi defisit neraca migas Indonesia. Tidak hanya pada level makro, nilai kebaikan sawit juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia, khususnya UMKM.
Saat ini, kata Helmi Muhansyah, UMKM berbasis sawit sudah banyak berkembang. BPDP juga memiliki program untuk mencetak 1.000 UMKM Perkebunan, termasuk UMKM sawit, yang bertujuan untuk mengembangkan UMKM di Indonesia.
Program tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya untuk mengembangkan bisnis skala mikro dan menengah.
Membuka sesi diskusi, Dr. Tungkot Sipayung selaku Ketua tim penyusun buku Mitos Vs Fakta Sawit, menyampaikan bahwa Indonesia telah menjadi pemain penting dalam pasar minyak nabati global karena menjadi produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia.
Minyak sawit juga menjadi minyak nabati utama di dunia. Kondisi ini memunculkan persaingan antar minyak nabati dunia.
Dalam persaingan harga (competitive price), minyak sawit sulit terkalahkan karena produktivitas minyak yang tinggi menyebabkan harganya paling kompetitif.
Oleh karena itu, ujarnya, digunakan non-price competition strategy melalui penyebaran isu negatif sawit baik dalam aspek ekonomi, sosial, lingkungan, maupun kesehatan.
Penyebaran isu-isu tersebut dimaksudkan merubah mindset dan preferensi konsumen menjadi anti-sawit sehingga menurunkan konsumsi minyak sawit.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan bedah buku oleh tiga dosen ULM yang berasal dari jurusan/prodi yang berbeda yakni ekonomi, agronomi, dan gizi.
Dengan komposisi dosen pembahas buku yang demikian, diharapkan pembahasan buku menjadi lebih dalam dan komprehensif.
Dari perspektif ekonomi, pembahasan buku disampaikan oleh Ir. Umi Salawati, M.Si (Dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian).
Dalam paparannya diungkapkan bahwa kelapa sawit berkontribusi dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Kondisi ini membuat banyak masyarakat yang tertarik untuk ikut berusaha tani sawit. Fakta di lapangan juga menunjukkan sekelompok petani jeruk di Kabupaten Barito Kuala ingin mengonversi lahannya menjadi lahan sawit.
Sebab, para petani jeruk menilai sawit lebih menguntungkan, baik dari mulai biaya perawatan lebih murah dengan pendapatan kontinu, serta lebih tahan terhadap banjir dan kekeringan.
Sementara dari perspektif agronomi, Yudhi Ahmad Nazari, S.P., M.P (Dosen Prodi Agronomi Fakultas Pertanian) menyampaikan bahwa kelapa sawit adalah tanaman yang ajaib yang dianugerahkan kepada Indonesia.
Selain keunggulan produktivitas yang mampu menghasilkan minyak dengan lahan yang relatif hemat, kelapa sawit juga memiliki peran untuk ekologi.
Namun dalam pengembangan kelapa sawit di Kalimantan Selatan maupun provinsi lainnya perlu memperhatikan tata ruang, pembukaan dan pengelolaan yang mengacu pada kaidah keberlanjutan, memerhatikan masyarakat sekitar, serta kolaborasi antar stakeholder untuk mendukung industri sawit yang berkelanjutan.
Dosen pembahas ketiga yang membahas buku Mitos Vs Fakta Sawit dalam aspek gizi/kesehatan yakni M. Irwan Setiawan, S.Gz., M.Gz (Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat).
Dalam paparannya semakin menegaskan fakta dalam buku yang meng-counter minyak sawit mengandung kolesterol, dimana isu tersebut sudah melekat dalam persepsi masyarakat.
Dosen Gizi tersebut juga menjelaskan bahwa minyak sawit tidak mengandung kolesterol. Minyak sawit justru mengandung fitosterol (sterol nabati) yang berfungsi untuk mengurangi kadar kolesterol di dalam darah.
Kandungan squalene dan polifenol dalam minyak sawit juga memiliki fungsi untuk menghambat penyerapan, reabsorpsi, dan sintesis kolesterol.
Menutup sesi diskusi melalui closing statement, Dr. Tungkot Sipayung menyampaikan bahwa sawit itu perlu banyak perbaikan namun hal tersebut bukan menjadi alasan untuk tidak mendukung sawit.
"Mari kita dukung sawit dan dukung perbaikan melalui riset dan tata kelola serta kolaborasi antar stakeholder," ujar Tungkot Sipayung.
"Upaya tersebut akan membawa industri sawit semakin baik dan berkelanjutan sehingga lebih menyejahterakan masyarakat Indonesia," tegas Tungkot Sipayung.
Medan, asatupro.com Sebanyak 678 peserta menjalani sidang Pantukhir Pusat Calon Bintara (Caba) Prajurit Karier (PK) TNI AD Gelombang III T
Medan
Plt Ketua Nasional GTDI Imbau Peserta Mubes XXV Jaga Keamanan dan Kondusifitas
Nasional
DPD Rumah Gibran Sumut Desak Bongkar Dugaan Pungli di Lapas Binjai Jangan Jadikan Hak Warga Binaan Sebagai Lahan Pungutan
Nasional
DPP HARI Apresiasi Ketegasan Presiden Prabowo Tangani Karhutla, Minta Aparat Usut Dugaan Pelaku Pembakaran Hutan
Nasional
Diduga Tak Sesuai Juknis, Pekerjaan Replanting dan Parit Isolasi PTPN IV Bah Jambi Diminta Diperiksa
Peristiwa
HUT ke4 Satupena.co.id Empat Tahun Berkarya, Menjaga Kepercayaan dan Mewarnai Negeri
Daerah
Ahli Waris Almarhum Abdul Halim Harahap Pemilik 15 Ha Lahan Polisikan Pasutri Diduga Penyerobot Lahan
Medan
Wabup Dairi Kunjungi Anak Korban Kekerasan di RSUD Sidikalang, "Pemulihan Fisik dan Mental Harus Tuntas"
Daerah
Olimpiade Sains Dairi 2026 Digelar September Mendatang, Ajang Prestasi Siswa & Guru seSumatera Utara
Pendidikan
Perdamaian Kasus Dugaan Pencemaran PT Indofarm Sukses Makmur Dipertanyakan, Hasil Uji Laboratorium Berbeda dan Dugaan Upeti Mencuat
Peristiwa