Minggu, 03 Mei 2026

Inflasi di Sumut Lebih Tinggi dari Pertumbuhan Ekonomi

Hendrik Hutabarat - Kamis, 02 Oktober 2025 11:42 WIB
Inflasi di Sumut Lebih Tinggi dari Pertumbuhan Ekonomi
Dok. Asatupro.com
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, memberikan tanggapan atas pertanyaan para wartawan terkait kenaikan inflasi di Sumut secara yoy pada September 2025. (Foto: asatupro.com).
Medan, asatupro.com - Tampaknya September 2025 bukan bulan yang ceria bagi perekonomian Provinsi Sumatera Utara (Sumut) seperti lirik lagu berjudul "September Ceria" yang dinyanyikan penyanyi senior Vina Panduwinata.

Kenapa begitu? Karena inflasi di Sumut secara tahunan atau year on year (yoy) pada September 2025 malah lebih tinggi ketimbang pertumbuhan ekonomi di periode yang sama.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Asim Saputra, dalam paparannya kepada para wartawan di kantor BPS Sumut, Jalan Asrama, Medan, Rabu (1/10/2025), mengungkapkan pada September 2025, inflasi yoy Sumut sebesar 5,32 persen, dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 111,11.

"Inflasi yoy tertinggi terjadi di Kabupaten Deli Serdang sebesar 6,81 persen dengan IHK
sebesar 111,99, dan terendah terjadi di Kota Medan sebesar 4,44 persen dengan IHK sebesar 109,97," kata Asim Saputra merinci.

Baca Juga:

Di sisi lain, Asim Saputra mengatakan inflasi di Sumut yang dihitung secara bulanan atau month to month (mtm) pada September ke ke Agustus 2025 sebesar 0,65 persen, serta tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 3,60 persen.


Baca Juga:

Secara terpisah, pengamat ekonomi Gunawan Benjamin saat dihubungi Asatupro.com mengaku terkejut dengan fakta ilmiah yang dipaparkan pihak BPS Sumut.

Sebab, kata pengajar di sejumlah kampus ternama di kota Medan ini, laju pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal kedua sebesar 4.69 persen secara tahunan (yoy).

Baginya, inflasi yang lebih tinggi ketimbang pertumbuhan ekonomi menunjukan kalau pengeluaran masyarakat Sumut lebih tinggi ketimbang pendapatan selama setahun terakhir

"Saya menafsirkannya begini, satu tahun terakhir pengeluaran masyarakat di Sumut bertambah sebanyak 5.32 persen, tetapi kenaikan pendapatan masyarakatnya hanya sebesar 4.69 persen," ucap Gunawan Benjamin.

"Sudah pasti masyarakat rugi karena kenaikan pendapatan tidak serta merta mampu menutupi pengeluaran," tutur Gunawan Benjamin lebih lanjut.


Dan dari dua indikator yakni pertumbuhan ekonomi dan inflasi, dia bilang inflasi sebenarnya yang relatif lebih bisa dikendalikan, tentunya dengan effort atau upaya yang lebih di saat sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat naik belakangan ini.

"Sementara itu pertumbuhan ekonomi masih harus berhadapan dengan sejumlah tantangan efisiensi anggaran, ketidakpastian ekonomi global, daya beli yang melemah, tingginya undisbursed loan hingga harga komoditas yang melandai," beber Gunawan Benjamin.

Dia melihat tumpuan pertumbuhan ekonomi masih mengandalkan aliran dana pemerintah yang mengandalkan dorongan belanja rutin seperti belanja pegawai dan pembangunan, belanja koperasi desa (Kopdes) Merah Putih dan MBG (makan bergizi gratis) hingga alokasi belanja untuk bantuan sosial.

Sumber
:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Inflasi di Sumut Masih Tinggi, BPS Ungkap Penyebabnya
Terungkap Penyebab Lonjakan Inflasi Sumut September 2025, Pengamat Sarankan Begini!
BUMD Jakarta, BPS, dan KADIN Sumut Lakukan Pertemuan
Tampil di FEB USU, Ini yang Dilakukan Kepala BPS Indonesia
Mantan Ibukota Sumut Ini Alami Inflasi Tertinggi pada Februari 2025
Ketua KPPU: Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Hanya Bisa Dicapai Dengan Lompatan Persaingan Usaha
komentar
beritaTerbaru