"Perkebunan kelapa sawit merupakan komoditas yang berperan penting bagi perekonomian Indonesia. Sawit berpotensi untuk pemulihan ekonomi Sumut dan Aceh," kata dia lagi.
"Karena itu perlu dikelola dengan baik agar upaya pemulihan dapat berjalan konsisten dan mencapai hasil yang diharapkan," kata Prof Diana memberikan saran.
Kata Diana, perkebunan kelapa sawit bukanlah penyebab bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir tahun lalu.
Namun ke depan, kata dia, tata kelola perkebunan kelapa sawit harus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat ekonomi dan tidak memberikan dampak buruk secara ekologis.
Baca Juga:
"Bukan hanya luas tetapi di mana. Bukan hanya kemampuan lahan, tetapi keseimbangan landscape. Bukan hanya bisa diproduksi tetapi juga bisa dijual dengan harga baik," kata Diana.
Sementara itu, Ketua Umum RSI (Rumah Sawit Indonesia) Kacuk Sumarto, menegaskan bahwa perekonomian wilayah terdampak bencana seperti Aceh dan Sumatera Utara sangat bergantung kepada industri sawit.
Karena itu, kata dia, perkebunan kelapa sawit tidak mungkin ditinggalkan. Hanya saja, tata kelola sektor pertanian dan perkebunan harus memperhatikan aspek kesesuaian lahan dengan komoditas yang akan ditanam.
Baca Juga:
"Jika aspek ekofisiologis diperhatikan, maka perkebunan sawit di seluruh Indonesia akan berkembang di tengah ekosistem lingkungan yang berkelanjutan," kata Kacuk.
Kacuk Sumarto mengatakan, perkebunan sawit di Sumatera Utara sudah ada sejak lebih satu abad. Dan selama itu, kondisi lingkungan di sekitar perkebunan sawit tetap terjaga dengan baik.
Namun perubahan iklim yang terjadi saat ini menjadi tantangan baru bagi pelaku sektor perkebunan dan pertanian.
Tags
beritaTerkait
komentar