Jakarta, asatupro.com - Para peneliti dari
Universitas Pertamina (
UPER) berhasil mengungkap penyebab munculnya penolakan masyarakat di berbagai daerah terhadap sejumlah pembangunan proyek energi yang dijalankan berbagai perusahaan.
Tim peneliti UPER tersebut, seperti keterangan resmi yang diterima asatupro.com, Kamis (2/4/1026), berasal dari Program Studi Ilmu Komunikasi yang dipimpin oleh Dr Ir Farah Mulyasari ST MSc bersama Muhammad Nur Ahadi MIKom dan Ita Musfirowati Hanika MIKom.
Disebutkan bahwa penolakan masyarakat terhadap proyek energi masih menjadi tantangan signifikan di Indonesia.
Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) pada 2024 mencatat terdapat 114 pengaduan terkait proyek strategis nasional (PSN) sepanjang 2020–2023, yang didominasi sektor energi dan pertambangan.
Baca Juga:
Para peneliti UPER menemukan fakta baru yang menunjukkan bahwa faktor komunikasi, transparansi, dan tingkat kepercayaan masyarakat menjadi penentu utama penerimaan terhadap proyek energi.
"Termasuk teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS), yaitu teknologi yang menangkap gas karbon dioksida (CO₂), sebuah jenis gas sisa dari aktivitas industri, agar tidak lepas ke atmosfer dan memperparah perubahan iklim," ujar Farah Mulyasari.
Tim peneliti, sambung Farah Mulyasari, mengkaji persepsi masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur energi di tiga wilayah, yakni Luwuk (Sulawesi Tengah), Blora (Jawa Tengah), dan Karawang (Jawa Barat).
Baca Juga:

"Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan survei dan wawancara mendalam untuk memetakan tingkat pemahaman, kekhawatiran, serta faktor sosial yang memengaruhi penerimaan masyarakat," kata
Farah Mulyasari lagi.
Tags
beritaTerkait
komentar