Senin, 24 Agustus 2026
HUT INDONESIA KE 81

Peneliti UPER Berhasil Ungkap Penyebab Munculnya Penolakan Masyarakat terhadap Proyek Energi

Hendrik Hutabarat - Kamis, 02 April 2026 14:32 WIB
Peneliti UPER Berhasil Ungkap Penyebab Munculnya Penolakan Masyarakat terhadap Proyek Energi
Dok. UPER
Tim peneliti dari Universitas Pertamina (UPER) berfoto bersama di sela-sela penelitian sosial terkait proyek energi.
Jakarta, asatupro.com - Para peneliti dari Universitas Pertamina (UPER) berhasil mengungkap penyebab munculnya penolakan masyarakat di berbagai daerah terhadap sejumlah pembangunan proyek energi yang dijalankan berbagai perusahaan.

Tim peneliti UPER tersebut, seperti keterangan resmi yang diterima asatupro.com, Kamis (2/4/1026), berasal dari Program Studi Ilmu Komunikasi yang dipimpin oleh Dr Ir Farah Mulyasari ST MSc bersama Muhammad Nur Ahadi MIKom dan Ita Musfirowati Hanika MIKom.

Disebutkan bahwa penolakan masyarakat terhadap proyek energi masih menjadi tantangan signifikan di Indonesia.

Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) pada 2024 mencatat terdapat 114 pengaduan terkait proyek strategis nasional (PSN) sepanjang 2020–2023, yang didominasi sektor energi dan pertambangan.

Baca Juga:

Para peneliti UPER menemukan fakta baru yang menunjukkan bahwa faktor komunikasi, transparansi, dan tingkat kepercayaan masyarakat menjadi penentu utama penerimaan terhadap proyek energi.

"Termasuk teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS), yaitu teknologi yang menangkap gas karbon dioksida (CO₂), sebuah jenis gas sisa dari aktivitas industri, agar tidak lepas ke atmosfer dan memperparah perubahan iklim," ujar Farah Mulyasari.

Tim peneliti, sambung Farah Mulyasari, mengkaji persepsi masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur energi di tiga wilayah, yakni Luwuk (Sulawesi Tengah), Blora (Jawa Tengah), dan Karawang (Jawa Barat).

Baca Juga:



"Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan survei dan wawancara mendalam untuk memetakan tingkat pemahaman, kekhawatiran, serta faktor sosial yang memengaruhi penerimaan masyarakat," kata Farah Mulyasari lagi.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi masyarakat tidak semata dipicu oleh teknologi itu sendiri, melainkan oleh minimnya pelibatan publik sejak tahap awal perencanaan, keterbatasan akses informasi, serta kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan sosial.

Dia bilang, setiap daerah memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda, sehingga pendekatan dalam implementasi CCUS tidak bisa disamaratakan.

Menurutnya, strategi komunikasi dan pelibatan masyarakat perlu disesuaikan dengan konteks lokal agar lebih efektif dan dapat membangun kepercayaan.

"Di tiga wilayah yang kami teliti, pemerintah setempat, tokoh adat, media lokal, dan komunitas menjadi aktor kunci dalam membangun kepercayaan dan menjembatani komunikasi antara proyek dan masyarakat," ujar Dr Farah Mulyasari.

Kata dia, teknologi CCUS sendiri dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung transisi energi. International Energy Agency (IEA), ujarnya, pada 2023 memerkirakan teknologi ini mampu menangkap hingga 90 persen emisi karbon.

"Termasuk dari sektor industri dan pembangkit listrik, serta berkontribusi signifikan dalam upaya penurunan emisi global menuju 2050," sambungnya lagi.

Namun demikian, dia bilang, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi teknologi tidak hanya bergantung pada kesiapan finansial dan teknologi, tetapi juga pada penerimaan sosial.

"Tanpa pelibatan masyarakat yang bermakna, proyek energi berisiko menghadapi konflik sosial, penundaan, hingga kegagalan implementasi," dia mengingatkan.


Pihaknya melihat kalau banyak proyek energi menghadapi hambatan bukan karena teknologinya, tetapi karena masyarakat tidak merasa dilibatkan sejak awal.

"Penerimaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui komunikasi satu arah, melainkan membutuhkan proses dialog yang partisipatif," tambah Dr. Farah.

Farah Mulyasari menyebutkan kalau social license to operate atau "izin sosial" menjadi kunci dalam menjembatani kepentingan industri dan masyarakat.

Melalui pendekatan ini, pihaknya yakin kalau masyarakat diposisikan sebagai pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan demikian, tambah Farah Mulyasari, kehadiran proyek energi dapat dipahami sebagai kebutuhan bersama, bukan ancaman terhadap ruang hidup mereka.

Menanggapi hal ini, Rektor UPER Prof Dr Ir Wawan Gunawan A Kadir MS IPU bilang penelitian ini mempertegas peran perguruan tinggi dalam mendukung transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dirinya sangat yakin kalau perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kebutuhan industri dan perspektif masyarakat melalui riset berbasis data.




"Penelitian (yang dilakukan oleh Farah Mulyasari dan tim - red) ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi energi harus berjalan beriringan dengan pendekatan sosial yang kuat," jelas Rektor UPER.


Di samping itu, kata dia lagi, penelitian ini sekaligus memperkuat posisi UPER sebagai pusat kajian energi dan komunikasi publik yang berfokus pada isu keberlanjutan.

"Hal ini sejalan dengan komitmen universitas dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui transisi energi yang inklusif," ucap Rektor UPER.

Dia bilang, bagi calon mahasiswa yang tertarik mendalami isu komunikasi publik, perubahan iklim, dan energi, Program Studi Komunikasi UPER menawarkan pembelajaran berbasis riset nyata di bidang komunikasi risiko, penerimaan publik, serta strategi pelibatan masyarakat.

"Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id," tegas Rektor UPER Prof Dr Ir Wawan Gunawan A Kadir MS IPU.

Sumber
:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
UPER Jadi Tuan Rumah SDGs Center Conference 2026, Perkuat Nilai Keberlanjutan Kampus
Mahasiswa UPER Hadirkan Teknologi Konstruksi Berbasis Augmented Reality
TP. PKK Provinsi Sumut Melakukan Supervisi ke Kabupaten Dairi
Pesawat Super Jet Air Tujuan Jakarta Tertunda Berjam-jam, Penumpang Mengeluh Dirugikan
Tampil Sebagai Widyaswara, Kajatisu Harli Siregar Sampaikan Poin Penting Ini ke Peserta PPPJ
Tercipta 111 Rekening Baru Masyarakat di Perbankan Sumut
komentar
beritaTerbaru