Jumat, 06 November 2026
HUT KE 2 ASATUPRO.COM 2026
HUT TNI KE 81

Huntara dari Danantara bagi Korban Bencana Alam di Aceh Tamiang Bakal Diresmikan Presiden Prabowo Subianto

Hendrik Hutabarat - Selasa, 30 Desember 2025 10:55 WIB
Huntara dari Danantara bagi Korban Bencana Alam di Aceh Tamiang Bakal Diresmikan Presiden Prabowo Subianto
Ist
Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, di sela peninjauan lokasi pembangunan huntara di Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (30/12/2025).
Aceh Tamiang, Asatupro.com - Pembangunan hunian sementara (huntara) dari Danantara bagi para korban bencana alam banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, bakal diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 1 Januari 2026 nanti.

Proses pembangunan huntara itu sendiri merupakan bagian dari penanganan pascabencana banjir bandang di Provinsi Aceh yang terus bergerak ke fase lanjutan, sekaligus sebagai langkah awal pemulihan bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.

"Sebanyak 600 unit hunian telah dibangun pada tahap awal ini," kata Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, di sela peninjauan lokasi, Selasa (30/12/2025).

Kata Dony Oskaria, seperti keterangan resmi yang diterima media, pembangunan huntara merupakan bentuk partisipasi aktif negara melalui badan usaha milik negara (BUMN) dalam membantu masyarakat terdampak bencana.

Baca Juga:

"Pada prinsipnya kami ingin ikut berpartisipasi membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana," ujar Dony Oskaria.

"Kami berharap hunian yang dibangun dapat menjadi tempat tinggal yang aman dan layak bagi masyarakat, sekaligus mendukung proses pemulihan mereka," sambung Dony lagi.



Baca Juga:

Menurut dia, pembangunan huntara tersebut memiliki orientasi pada kecepatan, juga pada kualitas lingkungan hunian itu sendiri.


Karena itu, tuturnya lebih lanjut, kawasan yang dibangun dirancang agar memiliki fasilitas pendukung kehidupan sehari-hari, mulai dari fasilitas umum, tempat ibadah, hingga ruang bermain anak.

"Akses konektivitas juga menjadi perhatian agar warga tetap dapat beraktivitas dan berkomunikasi selama masa pemulihan," ucap Dony Oskaria lagi.

Dony Oskaria bilang, 600 unit hunian tersebut merupakan tahap awal dari program yang lebih besar, dengan target pembangunan hingga 15.000 unit di berbagai wilayah terdampak.

Ke depan, ungkapnya kembali, pembangunan akan dilakukan secara bertahap di sejumlah lokasi lain yang juga terkena bencana alam, menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan daerah.

"Kami akan menunggu arahan dari pemerintah daerah terkait lokasi-lokasi lain yang memang membutuhkan dan siap untuk dibangunkan," katanya.

Pembangunan huntara tahap awal ini dikerjakan secara kolaborasi oleh BUMN Karya, Himbara, PLN, Pertamina, Telkom dan didukung oleh kesiapan areal oleh PTPN Grup, percepatan penyediaan dan kesiapan areal oleh PTPN memungkinkan proses pengerjaan dilakukan lebih cepat.




Program pembangunan huntara ini merupakan bagian dari sinergi lintas pihak antara pemerintah pusat dan daerah, BUMN, serta berbagai institusi pendukung.


Sejumlah entitas terlibat dalam penyediaan infrastruktur dasar, utilitas, dan layanan pendukung lainnya, sehingga kawasan hunian dapat segera difungsikan sebagai tempat tinggal sementara yang aman dan layak.

Sementara itu Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah SE, menyampaikan bahwa dampak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu dirasakan hampir di seluruh wilayah provinsi.

Dari 18 kabupaten dan kota yang terdampak, kata dia, setidaknya ada tujuh daerah yang mengalami dampak paling parah, sehingga memerlukan penanganan cepat dan kolaboratif.

"Kami menyampaikan ribuan terimakasih. Progresnya sangat cepat. Kami melihat pekerjaan pembangunan nonstop 24 jam. Kami berharap pembangunan hunian sementara ini berjalan paralel dengan pemulihan yang sedang berjalan," ujar Wagub Aceh.

"Pemerintah daerah telah meminta agar lahan disiapkan, baik dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pihak lain yang memungkinkan, sehingga pembangunan bisa segera dilanjutkan," sambung Fadhlullah.

Pihaknya sendiri menekankan bahwa keberadaan huntara harus benar-benar memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.




Selain unit hunian, kawasan tersebut diharapkan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, sehingga warga dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih layak selama masa transisi.


"Harapannya masyarakat yang menempati hunian ini merasa betah, aman, dan nyaman, sambil menunggu proses pemulihan berikutnya," tambahnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi MH, mengungkapkan bahwa skala kerusakan akibat bencana di wilayahnya tergolong sangat besar.

Berdasarkan pendataan sementara, lebih dari 14.000 rumah terdampak, dengan sekitar 8.000 unit mengalami kerusakan berat.

"Untuk rumah yang rusak parah jumlahnya lebih kurang 8.000 unit. Total rumah terdampak bisa lebih dari 14.000. Karena itu, untuk rumah-rumah yang rusak berat kemungkinan besar akan dilakukan relokasi," ujar Armia.

Ia juga menekankan pentingnya kelengkapan data dan persyaratan administrasi agar proses pembangunan dan bantuan dapat berjalan berkelanjutan serta menjangkau lebih banyak warga terdampak.

Sumber
:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Maling Sawit dan Peredaran Narkoba Disikat, PTPN IV Regional 2 Apresiasi Polri
Ini Strategi PTPN IV Regional 2 Atasi Maling TBS dan Peredaran Narkoba
PalmCo Manfaatkan Fasilitas Layanan Ekspor dari InaExport Kemendag
TJSL Jadi Cara Baru PalmCo Atasi Ninja Sawit
Standar Keberlanjutan Jadi Fondasi Bisnis bagi PalmCo
Ratusan Unit Kebun dan PKS PalmCo Raih Sertifikasi ISO
komentar
beritaTerbaru