Jumat, 23 Oktober 2026
HUT TNI KE 81

Dr. Eriko Silaban, M. Pd Dorong Haminjon, Andaliman, Kapur Barus Menjadi Komoditas Dilindungi Oleh Negara

Zulhamdani Napitupulu - Senin, 18 November 2024 15:34 WIB
Dr. Eriko Silaban, M. Pd Dorong Haminjon, Andaliman, Kapur Barus Menjadi Komoditas Dilindungi Oleh Negara
Foto : Dr. Eriko Silaban, M. Pd. Pakar Pembangunan Daerah, Alumni Doktoral IPDN

Kapur Barus.

Barus, merupakan salah satu daerah yang letaknya di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Berbentuk seperti mutiara yang terpendam. Selain karena sejarahnya yang panjang, tentu saja pesona alamnya yang indah terdapat Kapur Barus yang memiliki sejarah sebagai Bahan Pengawet Mumi atau Jenazah dan dikenal oleh negara timur tengah khususnya pada zaman Mesir kuno sejak abad ke 7-16 masehi.

Masyarakat di sana menggunakan kapur barus untuk berbagai keperluan terutama sebagai pengaharum alami dan dipakai untuk mengawetkan jenazah atau mumi.

Pedagang tersebut menganggap kapur barus dari Indonesia khususnya Sumatera punya kualitas yang paling bagus didunia. Raja-raja Mesir pun mengincar kapur barus asli Nusantara, sehingga konon Mumi Ramses II dan Ramses III diawetkan dengan cara dibalsem menggunakan kapur barus yang dicampur rempah-rempah lainnya.

Baca Juga:

Kapur barus memiliki aroma tajam dan menyengat memiliki sejarah panjang dalam budaya Tapanuli Tengah bahkan dunia karena berasal dari getah pohon dan itu hanya tumbuh di Sumatera Utara.

Pohon ini menghasilkan kristal kapur barus, digunakan sebagai pengawet, penyegar udara, atau obat tradisional, antiseptic, anti-jamur, obat salep atau balsem untuk mengatasi nyeri otot atau sakit kepala dan lainnya.

Kapur barus menjadi komoditas perdagangan yang bernilai tinggi, bahkan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu barang yang diperdagangkan di Jalur Sutra antara Asia dan Eropa. Di masa lalu, keberadaannya yang terbatas dan aroma khasnya menjadikannya simbol kemewahan dan keunikan.

Saat ini, kapur barus dijual berbentuk kristal dan ada yang dihaluskan dengan berbagai bentuk, ukuran, warna dan aroma. Kapur barus berasal daripohonkamper atau nama ilmiahnya Dryobalanops aromatica. Getah dari pohon itulah yang kini disebut kapur barus.Sebutan kapur barus sendiri mengaju pada kata Barus, daerah penghasil kamper di pesisir barat Sumatera.

Baca Juga:

Sayangnya kini pohon kamper sulit dijumpai, di daerah Barus sendiri dikarenakan pohonjya sudah banyak ditebang. Berdasarkan data dariInternational Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menyebutkan status pohonkapur barusini masuk kategori daftar merah, yaitu keberadaannya kritis atau terancam punah.

IUCN merupakan lembaga konservasi keanekaragaman hayati. Untuk itu perlu perlindungan dari Negara dalam melestarikan pohon kapur barus ini agar tidak punah.

Sumber
: Dr. Eriko Silaban, M. Pd. Pakar pembangunan daerah, Alumni Doktoral IPDN
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Sosialisasi Pencegahan Paham Radikal, Sumut Merupakan Salah Satu Provinsi di Luar Jawa Dengan Anak Terpapar Radikal
KAPOLRI: Pengungkapan 1,16 Ton Ketamine Kapal MT Global 168 Selamatkan 5,8 Juta Jiwa
DPW PSI Sumut Serahkan 8 SK DPC Kota Pematang Siantar, Tegaskan Kesiapan Sukseskan HUT dan Rapimnas di Surabaya
Dugaan Jaringan Judol Kamboja di Medan Diungkap Ditressiber Polda Sumut, Lima Orang Ditangkap
Keluarga Ibu Hamil di Belawan Pertanyakan Progres Laporan, Surat Polisi Memuat Dugaan Perkara Berbeda
Viktor Silaen Instruksikan Seluruh Plt Kosgoro 1957 Sumut Percepat Konsolidasi dan Musda
komentar
beritaTerbaru