Rabu, 02 September 2026
HUT INDONESIA KE 81

PalmCo Tanam Kedelai 1.000 Ha Demi Bantu Pemerintah Tekan Impor

Hendrik Hutabarat - Rabu, 02 September 2026 12:43 WIB
PalmCo Tanam Kedelai 1.000 Ha Demi Bantu Pemerintah Tekan Impor
Dok. PalmCo
PTPN IV PalmCo menanam kedelai seluas 1.000 Ha demi membantu pemerintah dalam menekan impor kedelai.
Sei Rampah, asatupro.com – Demi membantu pemerintah dalam menekan impor kedelai, PTPN IV PalmCo yang merupakan bagian dari badan usaha milik negara (BUMN) membangun pilot project penanaman kedelai seluas 1.0000 hektar (Ha), Jumat (28/8/2026).

Lokasi penanaman kedelai, sebagaimana keterangan resmi yang diterima media, Rabu (3/9/2026), dilakukan secara serentak di 20 titik di berbagai wilayah kerja PTPN III Subholding PTPN IV PalmCo.

Hal ini dilakukan PTPN Group guna menunjukkan komitmennya dalam menjalankan program pemerintah di bidang ketahanan pangan nasional. Secara keseluruhan, proyek percontohan ini menyasar luas awal 1.000 Ha.

Kegiatan penanaman perdana sendiri dipusatkan di Kebun Adolina Regional 2, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut). Acara ini terhubung secara daring dengan regional manajemen lain yang melaksanakan aktivitas serupa di 6 provinsi.

Baca Juga:

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, menyampaikan bahwa pelaksanaan pilot project kedelai PalmCo adalah tindak lanjut atas penugasan pemerintah dalam mendukung Asta Cita serta penguatan ketahanan pangan nasional, khususnya pada komoditas kedelai.

"Alhamdulillah, PTPN IV telah melaksanakan tanam perdana proyek percontohan kedelai. Ini merupakan tindak lanjut kita atas arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk meningkatkan produksi nasional dan menekan import kedelai," kata Jatmiko Krisna Santosa, Senin (31/8/2026)

Di tahap pertama tersebut, perusahaan menargetkan luasan 1.000 Ha sebagai areal percontohan yang seluruhnya berada di kawasan replanting sawit milik perusahaan.

Baca Juga:

"Kita optimalisasikan areal peremajaan ataupun konversi sawit. Sehingga kurang lebih selama 6 bulan sebelum sawit kembali di tanam, kita akan menanam kedelai terlebih dahulu," jelasnya.




Inisiatif ini dipandang penting, sebab dalam 5 tahun terakhir Indonesia rata-rata defisit kedelai mencapai 2,5 juta ton pertahun atau setara dengan 97 persen impor.


Menurut Jatmiko keberhasilan proyek menjadi sangat berarti agar pengembangan komoditas kedelai dapat terus diperluas kedepannya dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian investasi sebagaimana diamanatkan Danantara.

"Karena kita belum pernah tanam kedelai sebelumnya, kita siapkan pilot project 1.000 Ha dulu," kata Jatmiko.

Dan sesuai arahan Danantara, sambung Jatmiko, jika pilot project ini berhasil serta memperlihatkan kelayakan di berbagai aspek, insya Allah akan dilanjutkan dengan luasan yang lebih masif.

"Dengan demikian harapan pemerintah untuk meningkatkan produksi dan menekan import kedelai tadi, dapat diwujudkan," tukas Jatmiko.

Perwakilan Direktur Jenderal Pangan Kementerian Pertanian RI, Arief Muliawan, menyatakan apresiasi atas penanaman kedelai yang dilakukan Perusahaan. Menurutnya hal ini patut dicontoh bagi perusahaan lain.

"Kami memberikan apresiasi kepada PTPN yang terus menunjukkan komitmennya dalam menjalankan berbagai program swasembada pangan nasional," ucap Arief Muliawan.

"SSemoga proyek ini berhasil dan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang ada di Indonesia," imbuhnya.

Sementara Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero) Rizal H. Damanik, menekankan sinergi antara PTPN Group, Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah, dan mitra strategis akan berpengaruh pada percepatan serta keberhasilan program.




Dia bilang, jika ingin skalanya lebih besar dan persentase keberhasilannya tinggi, kerjasama banyak pihak mulai dari pemerintah, perusahaan, kelompok tani dan mitra strategis lainnya pasti akan sangat dibutuhkan.


"Termasuk kepastian serapan dari offtaker. Semoga project pilot kedelai PTPN IV PalmCo dapat berhasil dan berdampak maksimal," harap Rizal.

Perusahaan perkebunan sawit negara tersebut mulai menanam kedelai varietas grobokan dengan potensi produksi hingga 2 ton per hektar dengan siklus 85-90 hari.

Dukungan para pihak di dalam ekosistem yang dibangun akan menjadi kunci agar proyek yang dibangun tidak berhenti sebagai percontohan, tapi dapat diterapkan lebih luas dan berkelanjutan.

Sumber
:
Editor
: Hendrik Hutabarat
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Disaksikan Menko Perekonomian, ITSI Medan dan BPDP Tandatangani Kuota Beasiswa Sawit
Teknologi Sore Trap Diperkenalkan ke Petani Sawit di Sipispis
Program TJSL PalmCo Sebesar Rp 17,1 M Sasar Perbaikan Beragam Sektor
Ini Reaksi Petani Sawit Sergai Melihat BrondoClean Persembahan Tim PKM ITSI Medan
Didukung Pemerintah, ITSI Medan Ciptakan BrondoClean untuk Petani Sawit
Kunjungi ITSI Medan, Direktur Hubungan Kelembagaan PalmCo Bikin Kejutan
komentar
beritaTerbaru