Sambut HUT Polri ke-80, Personil Kompi 4 Batalyon C Brimob Poldasu Bersihkan Pantai Laharagu Nias Selatan
Sambut HUT Polri ke80, Personil Kompi 4 Batalyon C Brimob Poldasu Bersihkan Pantai Laharagu Nias Selatan
Daerah
Menyikapi hal ini, Wakil Rektor (Warek) III Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., mengatakan perlu dicari titik temu dari adanya tudingan terhadap perkebunan kelapa sawit.
"Khususnya bila sawit dikaitkan sebagai penyebab dari ketidakseimbangan alam yang mengakibatkan bencana banjir tersebut, dengan realita dan fakta yang sebenarnya," kata Poppy di Medan, Selasa (10/2/2026).
Dia mengatakan hal itu saat membuka diskusi ilmiah bertema "Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global sebagai Pemicu Bencana di Sumatera" yang berlangsung di Ruang IMT-GT Gedung Rektorat USU.
Baca Juga:
Diskusi ilmiah itu menghadirkan tiga pembicara yaitu dua guru besar dari Fakultas Pertanian (Gaperta) USU, yakni Prof Dr Abdul Rauf dan Prof Dr Diana Chalil, serta Deputi Bidang Klimatologi pada Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumut, Dr Ardhasena Sopaheluwakan.
Ikut hadir sebagai peserta dalam diskusi tersebut antara lain perwakilan pemerintah, petani sawit, dan perwakilan asosiasi industri sawit antara lain Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto dan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut, Timbas Prasad Ginting.

Baca Juga:
Karena itu, ucapnya pagi, untuk mengantisipasi risiko meningkatnya potensi terjadi bencana ke depan, perlu pendekatan kolaboratif di antara semua pemangku kepentingan: pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pengusaha.
"Kita harus dapat merumuskan pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana," ujarnya.
"Perguruan tinggi perlu mengedepankan pendekatan evidence-based policy, di mana setiap rekomendasi didasarkan pada riset yang kuat, data empiris, dan analisis multidisipliner. Tidak hanya yang tampak di luar saja," sambung Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan.
Prof Poppy Anjelisa mengatakan, diskusi ilmiah di USU ini mengangkat sebuah topik yang cukup strategis sekaligus sensitif. Terutama jika dikaitkan dengan dampak kerugian besar yang dialami oleh masyarakat dan daerah tersebab bencana tersebut.
"Forum ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga ruang refleksi bersama atas tantangan besar yang kita hadapi sebagai bangsa dan sebagai masyarakat di pulau Sumatera," tutur Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan.

Dirinya kembali mengingatkan kalau usu perubahan iklim global telah menjadi fakta ilmiah yang tidak terbantahkan.
"Namun, kita juga memahami bahwa perubahan iklim berinteraksi dengan berbagai faktor lokal: tata guna lahan, sistem hidrologi, perencanaan wilayah, dan praktik pengelolaan sumber daya alam," katanya.
Dalam konteks ini, kata Prof Poppy, sektor perkebunan kelapa sawit sering menjadi sorotan dan perdebatan publik.
Terdapat tudingan bahwa ekspansi perkebunan sawit berkontribusi terhadap ketidakseimbangan ekosistem dan meningkatkan kerentanan terhadap bencana banjir.Untuk mendapatkan fakta ilmiah yang objektif, dunia akademik memandang bahwa dialektika bencana alam di Sumatera dan perkebunan kelapa sawit harus ditempatkan dalam kerangka ilmiah yang objektif, berbasis data, dan terbuka.
Poppy berharap, diskusi ilmiah yang diselenggarakan di USU ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengkaji secara ilmiah hubungan antara perubahan iklim global, tata guna lahan, dan kejadian bencana di Sumatera.
"Selain itu juga untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dapat dimitigasi melalui kebijakan, teknologi, dan praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan," ujar Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan.
"Kita perlu mengedepankan pendekatan evidence-based policy, di mana setiap rekomendasi didasarkan pada riset yang kuat, data empiris, dan analisis multidisipliner," kata Poppy.
Dengan pendekatan tersebut, kata dia, keputusan yang diambil tidak hanya responsif terhadap tekanan opini publik, tetapi juga efektif dalam melindungi masyarakat dan lingkungan.
"Universitas memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis, produsen pengetahuan, dan jembatan dialog antar pemangku kepentingan," tegas Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan S.Si., M.Si., Apt.
Sambut HUT Polri ke80, Personil Kompi 4 Batalyon C Brimob Poldasu Bersihkan Pantai Laharagu Nias Selatan
Daerah
Hasil Piala AFF U19 Indonesia Atasi Kamboja 10, Rebut Tempat Ketiga
Olahraga
Masyarakat Minta APH dan Inspektorat Audit Sekretariat DPRD Batu Bara, Sejumlah Belanja Tahun Anggaran 20242025 Disorot
Hukrim
DPP GMNI Minta Panglima TNI Berikan Klarifikasi soal Keterlibatan Aparat dalam Pengamanan Demonstrasi
Nasional
Dapur MBG Membengkak Imbas Jual Beli Titik, Pemerintah Buka Opsi Penutupan
Medan
Hasil Piala Dunia 2026 Gol Sempat Dianulir, AS Hajar Paraguay 41
Olahraga
Medan,asatupro.comPengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PB ISMI) menggelar Diskusi Kebangsaan terbatas bertajuk &039Mengukur In
Hukrim
Hasil Piala Dunia 2026 Laga Sengit, Kanada vs Bosnia Berakhir Imbang
Olahraga
KPKM RI Gelar Sosialisasi Dan Penyuluhan di Lapas Narkotika Kelas IIA Simalungun, Kesadaran Diri, Pendidikan, Pembinaan Hukum Kunci Perubaha
Hukrim
Kebobolan Lebih Awal, Korea Selatan Bangkit dan Jungkalkan Ceko
Olahraga