Polres Karo Bungkam: Judi Tembak Ikan Diduga Backing Oknum TNI Kian Berani Beroperasi Terang-Terangan
Polres Karo Bungkam Judi Tembak Ikan Diduga Backing Oknum TNI Kian Berani Beroperasi TerangTerangan
Hukrim
Menyikapi hal ini, Wakil Rektor (Warek) III Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., mengatakan perlu dicari titik temu dari adanya tudingan terhadap perkebunan kelapa sawit.
"Khususnya bila sawit dikaitkan sebagai penyebab dari ketidakseimbangan alam yang mengakibatkan bencana banjir tersebut, dengan realita dan fakta yang sebenarnya," kata Poppy di Medan, Selasa (10/2/2026).
Dia mengatakan hal itu saat membuka diskusi ilmiah bertema "Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global sebagai Pemicu Bencana di Sumatera" yang berlangsung di Ruang IMT-GT Gedung Rektorat USU.
Baca Juga:
Diskusi ilmiah itu menghadirkan tiga pembicara yaitu dua guru besar dari Fakultas Pertanian (Gaperta) USU, yakni Prof Dr Abdul Rauf dan Prof Dr Diana Chalil, serta Deputi Bidang Klimatologi pada Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumut, Dr Ardhasena Sopaheluwakan.
Ikut hadir sebagai peserta dalam diskusi tersebut antara lain perwakilan pemerintah, petani sawit, dan perwakilan asosiasi industri sawit antara lain Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto dan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut, Timbas Prasad Ginting.

Baca Juga:
Karena itu, ucapnya pagi, untuk mengantisipasi risiko meningkatnya potensi terjadi bencana ke depan, perlu pendekatan kolaboratif di antara semua pemangku kepentingan: pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pengusaha.
"Kita harus dapat merumuskan pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana," ujarnya.
"Perguruan tinggi perlu mengedepankan pendekatan evidence-based policy, di mana setiap rekomendasi didasarkan pada riset yang kuat, data empiris, dan analisis multidisipliner. Tidak hanya yang tampak di luar saja," sambung Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan.
Prof Poppy Anjelisa mengatakan, diskusi ilmiah di USU ini mengangkat sebuah topik yang cukup strategis sekaligus sensitif. Terutama jika dikaitkan dengan dampak kerugian besar yang dialami oleh masyarakat dan daerah tersebab bencana tersebut.
"Forum ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga ruang refleksi bersama atas tantangan besar yang kita hadapi sebagai bangsa dan sebagai masyarakat di pulau Sumatera," tutur Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan.

Dirinya kembali mengingatkan kalau usu perubahan iklim global telah menjadi fakta ilmiah yang tidak terbantahkan.
"Namun, kita juga memahami bahwa perubahan iklim berinteraksi dengan berbagai faktor lokal: tata guna lahan, sistem hidrologi, perencanaan wilayah, dan praktik pengelolaan sumber daya alam," katanya.
Dalam konteks ini, kata Prof Poppy, sektor perkebunan kelapa sawit sering menjadi sorotan dan perdebatan publik.
Terdapat tudingan bahwa ekspansi perkebunan sawit berkontribusi terhadap ketidakseimbangan ekosistem dan meningkatkan kerentanan terhadap bencana banjir.Untuk mendapatkan fakta ilmiah yang objektif, dunia akademik memandang bahwa dialektika bencana alam di Sumatera dan perkebunan kelapa sawit harus ditempatkan dalam kerangka ilmiah yang objektif, berbasis data, dan terbuka.
Poppy berharap, diskusi ilmiah yang diselenggarakan di USU ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengkaji secara ilmiah hubungan antara perubahan iklim global, tata guna lahan, dan kejadian bencana di Sumatera.
"Selain itu juga untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dapat dimitigasi melalui kebijakan, teknologi, dan praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan," ujar Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan.
"Kita perlu mengedepankan pendekatan evidence-based policy, di mana setiap rekomendasi didasarkan pada riset yang kuat, data empiris, dan analisis multidisipliner," kata Poppy.
Dengan pendekatan tersebut, kata dia, keputusan yang diambil tidak hanya responsif terhadap tekanan opini publik, tetapi juga efektif dalam melindungi masyarakat dan lingkungan.
"Universitas memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis, produsen pengetahuan, dan jembatan dialog antar pemangku kepentingan," tegas Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan S.Si., M.Si., Apt.
Polres Karo Bungkam Judi Tembak Ikan Diduga Backing Oknum TNI Kian Berani Beroperasi TerangTerangan
Hukrim
Tujuh Tahun Beroperasi, SPBU Curang di Sergai Diungkap Polda Sumut Manajer dan Supervisor Ditahan
Hukrim
KPK Panggil Ulang Tersangka Baru Korupsi Proyek Jalan Sumut yang Mangkir
Hukrim
14 Hari ke Depan, Polisi Kedepankan Edukatif dan ETLE di Operasi Patuh Toba 2026
Daerah
Judi Tembak Ikan Marak Kembali di Tanah Karo, Diduga Melibatkan Oknum Aparat dan Warga Sipil
Hukrim
Robby Barus Pimpin PODSI Medan 2026&ndash2030, Bidik Atlet Tembus Pelatnas
Olahraga
Berhasil Lulus Sarjana Kedokteran UI 3 Tahun, Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra Tuai Pujian
Pendidikan
Ada Apa dengan HS? Mengapa Banyak Akun Bodong Sibuk Membangun Opini Negatif?
Peristiwa
Bupati Dairi Ajak HIMPAK Lestarikan Budaya Jangan Hanya Dirayakan, Tapi Dijalani
Daerah
Proyek Pemeliharaan Berkala BBWS Sumatera II Dikampung Masjid, Labura Disorot, Tanah Galian Diduga Diperjualbelikan, APH Didesak Turun Tanga
Hukrim