Eko Sitepu Gelar Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Medan, Warga Soroti Keadilan Sosial
Eko Sitepu Gelar Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Medan, Warga Soroti Keadilan Sosial
Politik
Medan,asatupro.com-Aksi pelaporan terhadap Muhammad Jusuf Kalla ke Polri kian terbuka sebagai manuver politik, bukan murni aspirasi umat. Publik dengan cepat menguliti. Faktanya para pelapor memiliki keterkaitan dengan partai politik pendukung pemerintah.
Ketika fakta itu mencuat, respons pun berubah arah. Ketua harian partai terkait tiba-tiba menawarkan mediasi. Langkah ini terbaca sebagai upaya penyelamatan—bukan hanya terhadap pelapor, tetapi juga terhadap citra partai yang mulai terseret arus kritik.
Di sisi lain, narasi "kemarahan umat" yang sempat dibangun ternyata tidak menemukan pijakan di akar rumput. Tidak ada gelombang besar dari umat Kristen. Justru sebaliknya, mulai muncul tokoh-tokoh yang mengapresiasi peran dan kiprah Jusuf Kalla dalam menjaga harmoni kebangsaan.
Ketua umum ormas yang sebelumnya tampil agresif kini menghilang dari ruang publik. Aksi yang semula dirancang dramatis, lengkap dengan eksposur media, berujung antiklimaks.
Baca Juga:
Dalam situasi ini, tawaran mediasi menjadi tidak relevan. Tidak ada kegentingan yang memaksa. Tidak ada konflik nyata di tengah umat yang membutuhkan penanganan darurat. Yang terjadi lebih menyerupai orkestrasi isu, bukan realitas sosial.
Jika silaturahmi ingin dilakukan, maka jalurnya harus tepat. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) adalah representasi sah umat Protestan dan Katolik di Indonesia. Dialog dengan kedua lembaga tersebut akan jauh lebih bermakna dalam memperkuat kerukunan.
Di sisi lain, aparat penegak hukum juga perlu lebih selektif. Tidak setiap laporan yang mengatasnamakan agama harus langsung diproses. Polri memiliki tanggung jawab menjaga ketertiban, bukan menjadi alat legitimasi konflik yang dibangun secara artifisial.
Baca Juga:
Sejarah menunjukkan, persoalan kerukunan umat beragama tidak pernah efektif diselesaikan melalui jalur hukum semata. Dialog, silaturahmi, dan kedewasaan para elite jauh lebih menentukan.
Sudah saatnya elit ormas dan partai menghentikan "akrobat politik" yang berpotensi merusak harmoni sosial. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian global; bangsa ini justru membutuhkan soliditas, bukan polarisasi.
Bagi para pelapor, langkah terbaik bukan memperpanjang polemik, melainkan merendahkan hati: datang, bertemu, dan mencabut laporan. Dalam tradisi iman Kristen sendiri, kasih adalah puncak ajaran—dan kasih tidak pernah lahir dari konflik yang dipaksakan, melainkan dari perjumpaan dan pengertian.
Eko Sitepu Gelar Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Medan, Warga Soroti Keadilan Sosial
Politik
Tudingan &lsquoTebang Pilih&rsquo Mewarnai Penetapan Tersangka Korupsi Proyek Jalan di Sumut, KPK Buka Suara
Hukrim
Ketum GERMAS Ungkap Ade Julhaidir Desak DPR/MPR RI Tampung Aspirasi Masyarakat Terkait Polemik Putusan MK dan IJASAH Gibran
Nasional
Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan menegaskan tidak ada kompromi dalam hal pemberantasan narkotika.
Daerah
Sosialisasi Pencegahan Paham Radikal, Sumut Merupakan Salah Satu Provinsi di Luar Jawa Dengan Anak Terpapar Radikal
Nasional
Dana Revitalisasi Rp774 Juta di Silahisabungan Dairi Dipertanyakan, Diduga Rangka Atap Lapuk Dipakai Kembali
Peristiwa
Sikapi Situasi PT Milano, Idris Siregar Ajak Warga Labuhanbatu Selesaikan Masalah dengan Kepala Dingin
Peristiwa
KAPOLRI Pengungkapan 1,16 Ton Ketamine Kapal MT Global 168 Selamatkan 5,8 Juta Jiwa
Peristiwa
Ngopi Kamseltibcar Lantas di Rambah, Kasatlantas Polres Rohul Ajak Masyarakat Utamakan Keselamatan
Daerah
Aktivis Muda DPP AJUDAN Desak Polri Serius Berantas Perjudian dan Narkoba Hingga ke AkarAkarnya
Nasional