KPPU dan UHN Dorong Pemahaman Hukum Persaingan Usaha melalui Kuliah Umum
Medan,asatupro.comKomisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan mendorong peningkatan pemahaman ma
Pendidikan
Jakarta,asatupro.com-Memperingati 72 tahun berdirinya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), kita tidak sekadar mengenang usia organisasi melainkan juga merefleksikan perjalanan panjang perjuangan ideologis yang telah ditempuh.
GMNI lahir dari rahim sejarah perjuangan bangsa, sebagai alat revolusi yang berakar pada ajaran Marhaenisme yaitu sebuah ideologi yang berpihak pada rakyat kecil, kaum tertindas, dan seluruh elemen yang dimarjinalkan oleh sistem yang tidak adil. GMNI berdiri secara resmi pada 23 Maret 1954.
Pembentukan ini merupakan hasil fusi (penggabungan) dari tiga organisasi mahasiswa yang sebelumnya memiliki kesamaan ideologi juga cara pandang gerakan yaitu Gerakan Mahasiswa Marhaenis di Yogyakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka di Surabaya dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia di Jakarta.
Fusi ini dilakukan untuk menyatukan kekuatan mahasiswa nasionalis dalam satu wadah perjuangan yang lebih solid dan terorganisir, terutama dalam menghadapi dinamika politik pasca-kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga:
GMNI yang sudah teruji oleh zaman dan tak lekang oleh waktu. Rongrongan baik dari pihak eksternal maupun internal GMNI sekalipun dalam orientasi pandang yang berbeda dari berbagai motif tetapi tidak cukup mampu untuk meruntuhkan ketahanan gerakan ini karena fondasi awal pendirian gerakan ini sudah jelas.
Mewadahi mahasiswa untuk setia terhadap marhaenisme juga ajaran Bung Karno, menjadikannya pisau analisis untuk menemukan problem solving yang kesemua itu berorientasi kepada satu cita-cita besar yaitu mewujudkan sosialisme di Indonesia. Sejarah GMNI adalah sejarah keberanian dan keberpihakan.
Dalam masa awal kemerdekaan hingga era Demokrasi Terpimpin, GMNI tampil sebagai kekuatan mahasiswa yang aktif mengawal semangat anti-imperialisme, anti-kolonialisme, dan keadilan sosial. GMNI menjadi bagian dari dinamika politik nasional yang memperjuangkan gagasan besar seperti Nasakom, serta berperan dalam membangun kesadaran politik mahasiswa untuk berpihak kepada rakyat.
Baca Juga:
Namun perjalanan sejarah tidak selalu berjalan mulus. Pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, GMNI menghadapi tekanan politik yang luar biasa di bawah rezim Soeharto. Terjadi fragmentasi internal, pembatasan ruang gerak, dan upaya depolitisasi organisasi mahasiswa. Dalam situasi tersebut, GMNI tetap bertahan sebagai organisasi kader dengan menjaga api ideologi Marhaenisme, meskipun dalam ruang yang terbatas.
Memasuki era Reformasi 1998, GMNI kembali menemukan momentumnya. Runtuhnya rezim Orde Baru membuka ruang bagi kebebasan berorganisasi sekaligus menuntut GMNI untuk melakukan konsolidasi ideologi dan gerakan. GMNI kembali aktif dalam mengawal isu-isu demokrasi, keadilan sosial, serta perjuangan rakyat di tengah arus globalisasi dan kapitalisme yang semakin kuat.
Namun dalam situasi saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan serius. Ketimpangan sosial-ekonomi masih nyata, demokrasi menghadapi ujian kualitas, dan praktik-praktik kekuasaan kerap menjauh dari semangat kerakyatan. Di sisi lain, arus globalisasi dan kapitalisme yang semakin masif telah mendorong lahirnya pola pikir pragmatis yang kerap menggerus nilai-nilai idealisme.
Ditengah situasi tersebut, generasi muda termasuk mahasiswa berada dipersimpangan jalan. Ada tuntutan untuk bersikap realistis dalam menghadapi dunia modern, namun juga ada tanggung jawab historis untuk tetap menjaga idealisme perjuangan. Inilah tantangan utama kader GMNI hari ini.
Oleh karena itu, GMNI harus hadir sebagai penuntun arah dan GMNI tidak boleh larut dalam pragmatisme yang mengorbankan ideologi. Tidak boleh pula terjebak dalam romantisme sejarah tanpa relevansi juga GMNI harus berdiri tegak sebagai organisasi kader yang progresif, adaptif, dan tetap berakar kuat pada marhaenisme.
Sikap GMNI harus jelas:
Dies Natalis ke-72 ini harus menjadi momentum konsolidasi ideologi dan gerakan. GMNI harus tetap menjadi organisasi yang tajam dalam analisis, kuat dalam perjuangan, dan konsisten berpihak kepada rakyat.
Mengingatkan kembali.apa yang pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwasanya kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup dimasa pancaroba jadi tetaplah bersemangat elang rajawali.
Medan,asatupro.comKomisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan mendorong peningkatan pemahaman ma
Pendidikan
Perkuat Kontribusi Sosial dan Kelembagaan, Samsu Budiman Tanjung Pimpin DPP IKADLN Parmeraan Periode 20262031
Sosok
Damai di Jalur Kekeluargaan, Polrestabes Medan Resmi Terbitkan SP3 via Restorative Justice untuk Politisi DPRD Medan Antonius Tumanggor
Peristiwa
Ketum Gema Santri Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Hindari Hoaks di Momen Maulid Nabi
Nasional
Medan, asatupro.com Sebanyak 678 peserta menjalani sidang Pantukhir Pusat Calon Bintara (Caba) Prajurit Karier (PK) TNI AD Gelombang III T
Medan
Dandim 0208/Asahan dan Bupati Tinjau Kesiapan KDKMP di Sei Kamah Baru
Daerah
Bina Kemandirian Desa, Tim PPK Ormawa BEM Untag Semarang Latih Kader PKK dan Posyandu Olah TOGA Menjadi Produk Herbal
Pendidikan
Pangdam I/BB Resmikan Jembatan Perintis Garuda dan Sumur Bor di Deliserdang
Daerah
Dukung Ketahanan Pangan dan Kemandirian Warga Binaan Lapas Kelas I Medan Resmikan Budidaya Hidroponik dan Ikan Air Tawar
Medan
Oknum Pengacara "Jual Janji" Resmi Dilaporkan ke Polda Sumut, Diduga Tipu Keluarga Untuk Bebaskan Tersangka Tahanan Narkoba Sebesar Rp200 Jt
Peristiwa