Perubahan KUA-PPAS APBD 2026 Dairi Disepakati, Jadi Pedoman RKA-SKPD
Perubahan KUAPPAS APBD 2026 Dairi Disepakati, Jadi Pedoman RKASKPD
Daerah
Medan,asatupro.com-Di tengah meningkatnya penggunaan layanan pinjaman, baik dari perbankan maupun fintech, keberadaan debt collector menjadi hal yang tak terpisahkan.
Namun, metode penagihan yang dilakukan sering kali menimbulkan pertanyaan serius: apakah debt collector boleh mengancam debitur?
Pertanyaan ini penting, terutama karena tidak sedikit masyarakat yang mengaku mengalami intimidasi saat proses penagihan utang berlangsung. Kita akan mengulas secara jelas dari sisi hukum, etika, dan perlindungan konsumen.
Baca Juga:
Debt Collector dan Batasan Hukumnya
Secara umum, debt collector atau penagih utang diperbolehkan menjalankan tugasnya untuk menagih kewajiban debitur. Namun, aktivitas tersebut tidak boleh dilakukan secara sembarangan, apalagi dengan cara-cara yang mengandung ancaman, tekanan, atau kekerasan baik verbal maupun fisik.
Dalam praktik hukum di Indonesia, tindakan mengancam dapat dikategorikan sebagai pelanggaran pidana. Hal ini merujuk pada aturan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait perbuatan tidak menyenangkan, pemerasan, atau ancaman.
Baca Juga:
Seorang praktisi hukum, dalam sebuah wawancara, menyatakan: "Penagihan utang itu sah, tetapi metode yang digunakan harus sesuai hukum. Jika ada unsur intimidasi, apalagi ancaman, itu sudah masuk ranah pidana," jelasnya.
Regulasi yang Mengatur Penagihan
Untuk sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan aturan ketat terkait tata cara penagihan. Beberapa poin penting yang wajib dipatuhi debt collector antara lain:
Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat berujung pada sanksi administratif hingga pidana.
Psikologis pada Debitur
Selain aspek hukum, cara penagihan yang agresif juga dapat berdampak pada kondisi mental debitur. Tekanan berlebih bisa memicu stres, kecemasan, bahkan gangguan psikologis.
Seorang konsultan keuangan menyebutkan: "Masalah utang memang serius, tapi penyelesaiannya tidak boleh menimbulkan trauma. Pendekatan persuasif justru lebih efektif dalam jangka panjang."
Langkah yang Bisa Dilakukan Jika Mengalami Ancaman
Jika Anda merasa diintimidasi oleh debt collector, ada beberapa langkah yang bisa diambil:
Debt collector tidak diperbolehkan mengancam dalam proses penagihan utang. Meskipun mereka memiliki kewenangan untuk menagih, cara yang digunakan harus tetap sesuai hukum dan etika. Perlindungan terhadap debitur menjadi prioritas, sehingga segala bentuk intimidasi dapat diproses secara hukum.
Dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing pihak, konflik dalam penagihan utang dapat diminimalkan, sekaligus menciptakan sistem keuangan yang lebih sehat dan manusiawi.
Perubahan KUAPPAS APBD 2026 Dairi Disepakati, Jadi Pedoman RKASKPD
Daerah
Jangan Takut Bermimpi Besar, Pesan Bupati Dairi Untuk Mahasiswa Rantau
Daerah
Nyaris Terbang ke Jakarta, 928 Gram Sabu Diselipkan di Selangkangan Digagalkan di Bandara Kualanamu
Hukrim
Diduga Gudang "Siong" Andre Sinaga Kebal Hukum!, Limbah Solar Cemari Parit Warga & Isu "Setoran" ke APH Mencuat
Hukrim
DPP HARI Soroti Keracunan Massal Siswa di Sidoarjo, Desak Kepala BGN Benahi Standar Higienitas Dapur SPPG
Nasional
Medan,asatupro.comKandidat Ketua Umum MD KAHMI Medan, Ansor Harahap mengatakan dirinya siap merawat nilainilai rumah besar KAHMI jika terp
Medan
Bobby Sihite Sampaikan Ucapan Selamat dan Sukses atas Amanah Baru AKBP Marganda Aritonang dan AKBP Sah Udur Sitinjak
Daerah
Diduga Pukul 10 Murid karena PR, Guru SD Negeri di Medan Mengundurkan Diri
Peristiwa
Medanasatupro.comKetua Umum HMI Komisariat FIB USU periode 20052006 Ansor Harahap, S.Sos menyatakan diri siap memimpin MD KAHMI Medan per
Medan
Aduan Asap Cerobong PT LSP, Anggota DPRD Siak Jondris Pakpahan Turun Langsung ke Lapangan
Daerah