Medan, asatupro.com -
Pematang Siantar yang pernah menjadi ibukota Provinsi Sumatera Timur atau kini disebut Provinsi
Sumatera Utara (Sumut) pada era perang kemerdekaan, mengalami inflasi tertinggi bila dibandingkan kabupaten atau kota lainnya di Sumut pada bulan Februari 2025.
Fakta tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Asim Saputra, dalam sebuah paparan rilis resmi kepada para wartawan di kantor BPS Sumut di Jalan Asrama, Medan, belum lama ini.
Secara umum, kata Asim Saputra, pada Februari 2025, inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) di Sumut sebesar 0,73 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 106,64.
"Inflasi yoy tertinggi terjadi di Kota Pematang Siantar sebesar 1,93 persen dengan IHK sebesar 108,53," ungkap Asim Saputra lebih jauh.
Baca Juga:
Sementara di saat yang sama, Asim Saputra bilang inflasi yoy yang terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 0,13 persen dengan IHK sebesar 107,27.
Asim Saputra menjelaskan bahwa inflasi yoy terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks sebagian besar kelompok pengeluaran.
Yaitu, kata dia, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,81 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,09 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,31 persen.
Baca Juga:
Selanjutnya, kelompok kesehatan sebesar 2,22 persen; kelompok transportasi sebesar 1,54 persen; kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,27 persen.
Berikutnya, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,20 persen; kelompok pendidikan sebesar 1,04 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,03 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,60 persen.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 10,78 persen.
Di sisi lainnya, Asim Saputra mengungkapkan kalau tingkat deflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,63 persen dan tingkat deflasi year to date (y-to-d) sebesar 0,57 persen.
Editor
: Hendrik Hutabarat
Tags
beritaTerkait
komentar